Laporan Pendahuluan dan Askep Antenatal Care

3:03 PM

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan (Askep) Antenatal Care


Hai semuanya, kali ini sakan akan membagikan postingan mengenai asuhan keperawatan antenatal care (ANC), askep ini biasanya merupakan tugas seorang mahasiswa keperawatan yang desang praktik distase maternitas dan bisa dilakukan di puskesmas ataupun dirumah sakit. Dan saya masih ingat sekali ketika menjadi mahasiswa dulu saya pernah praktik di ruang poli rumah sakit bagian ginekologi dan inialh tugas yang harus dilakukan oleh mahasiswa yaitu membuat askep antenatal care (Anc) pada pasien yang datang.

Semoga apa yang kami berikan ini bisa membantu teman-teman semua dalam membaut tugas askepnya. Yok sama-sama kita pelajari contoh askepnya dibawah ini, selamat belajar teman-teman.


A. Definisi Antenatal Care

     Antenatal Care (ANC) dapat didefinisikan sebagai perawatan yang diberikan oleh profesional perawatan kesehatan terampil untuk wanita hamil dan remaja perempuan untuk memastikan kondisi kesehatan terbaik bagi ibu dan bayi selama kehamilan. Komponen-komponen ANC meliputi: identifikasi risiko; pencegahan dan manajemen penyakit terkait kehamilan atau bersamaan; dan pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan.

     Antenatal care merupakan sebuah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan yang bertujuan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala, serta diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang mungkin saja ditemukan (Depkes RI, 1996).

     Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) adalah sebuah rangkaian pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, hingga ibu dapat menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 2008).

     Prawiroharjo (2005), pemeriksaan Antenatal Care (ANC) merupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka post partum sehat dan normal, dan bukan hanya fisik tetapi mental juga.

     Kunjungan Antenatal Care (ANC) merupakan sebuah kunjungan ibu hamil ke dokter  atau bidan sedini mungkin setelah ibu merasa dirinya telah hamil agar mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal secepatnya. Di setiap kunjungan Antenatal Care (ANC), petugas akan mengumpulkan data dan menganalisis data mengenai keadaan ibu melalui kegiatan anamnesis dan pemeriksaan fisik agar mendapatkan diagnosis kehamilan intrauterine serta mendeteksi ada tidaknya masalah atau komplikasi yang mungkin terjadi(Saifudin, 2005).
     Henderson (2006) mengatakan, kunjungan Antenatal Care merupakan sebuah program terencana oleh tenaga kesehatan yang bertujuan untuk :
  1. mengobservasi keadaan kehamilan yang aman
  2. mengedukasi ibu hamil agar mendapatkan persalinan yang aman
  3. Penanganan medik untuk Deteksi dini (kelainan obstetri)


B. Tujuan Pemeriksaan ANC

     Berdasarkan Depkes RI (2004), tujuan dari pemeriksaan ANC sendiri adalah untuk menjaga agar ibu hamil agar melalui masa kehamilannya, persalinan serta masa nifas dengan baik dan selamat, dan juga mendapatkan bayi yang dalam keadaan sehat.
Adapun tujuan umum pemeriksaan ANC sendiri menurut Muchtar (2005) dalam Febriani (2010), yaitu
  1. Melihat kemajuan kehamilan dan memastikan kesehatan dari ibu dan perkembangan janin.
  2. Mempertahankan dan meningkatkan kesehatan fisik, psikologis, maternal, dan sosial ibu dan bayi.
  3. Mengenal komplikasi secara dini yang mungkin terjadi selama hamil, seperti riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan. serta memberikan penyelesainnya kepada ibu 
  4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, ibu dan bayi selamat dengan pencegahan terhadap trauma seminimal mungkin.
  5. Mempersiapkan ibu selama masa nifas berjalan dengan baik dan mengajarkan ibu pemberian ASI Eksklusif.
  6. Mempersiapkan peranan ibu dan ayahnya dalam menerima kelahiran bayi.
  7. Menurunkan dan mencegah peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatalnya.
      Wiknjosastro (2005) mengatakan bahwa, tujuan khusus pemeriksaan ANC adalah menyiapkan ibu hamil secara fisik dan mental dengan seoptimal mungkin serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kondisi hamil, persalinan dan selama masa nifas, sehingga pada masa nifas mereka sehat dan normal, dan bukan hanya fisik tetapi juga mental.

C. Jadwal Pemeriksan ANC

     Kunjungan antenatal yang bertujuan untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak setidanya minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu, yaitu (Hanafiah, 2006).
  1. kehamilan trimester I (<14 minggu) satu kali kunjungan, 
  2. kehamilan trimester II (14-28 minggu) satu kali kunjungan, 
  3. kehamilan trimester III (28-36 minggu dan sesudah minggu ke-36) dua kali kunjungan 

D. Sasaran ANC

Sasaran ANC berdasarkan Depkes RI (2001)
  1. Ibu Hamil
    Ibu hamil merupakan sasaran yang paling utama ANC/asuhan kehamilan karena berperan utama dalam menjaga kehamilannya dan dapat melahirkan bayi yang sehat.
  2. Suami
    Dukungan sosial suami diharapkan oleh sang istri seperti memperhatikan kesehatan istri, mengantar dan memahami keadaan istrinya, tidak akan menyakiti istri, selalu berdoa untuk keselamatan istri juga suami menunggu proses persalinan istrinya(Harymawan, 2007). Sehingga dukungan suami berperan agar istrinya  melalukan pemeriksaan antenatal care (ANC).
  3. Keluarga
    Friedman (1998) mengatakan keluarga merupakan sumber selanjutnya untuk dukungan sosial karena dalam hubungan keluarga terdapat hubungan yang kuat.

E.  Standar Antenatal Care (ANC)

Standar minimal ANC 14 T, meliputi
  1. Timbang berat badan (T1)
    Ukur berat badan dalam kilo gram tiap kali kunjungan. Kenaikan berat badan normal pada waktu hamil 0,5 kg per minggu mulai trimester kedua. Kenaikan berat badan normal pada waktu hamil ialah sebesar pada Trimester I 0,5 Kg perbulan dan Trimester II-III 0,5 Kg perminggu. Dengan kenaikan berat badan rata-rata sebesar 6-12 kg selama kehamilan, Maksimal mengalami kenaikan berat badan sebesar 12 Kg dan minimal sebesar 6-7 Kg. Perhatikan besar kenaikan berat badan ibu, jangan sampai ibu mengalami penurunan berat badan atau jangan sampai ibu mengalami obesitas.
  2. Ukur tekanan darah (T2)
    Tekanan darah yang normal 110/80 – 140/90 mmHg, bila melebihi dari 140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya preeklamsi.
  3. Ukur tinggi fundus uteri (T3)
  4. Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4)
  5. Pemberian imunisasi TT (T5)
    Selama kehamilan bila ibu hamil statusnya T0 maka hendaknya mendapatkan minimal 2 dosis (TT1 dan TT2 dengan interval 4 minggu dan bila memungkinkan untuk mendapatkan TT3 sesudah 6 bulan berikutnya). Ibu hamil dengan status T1 diharapkan mendapatkan suntikan TT2 dan bila memingkinkan juga diberikan TT3 dengan interval 6 bulan (bukan 4 minggu / 1 bulan). Bagi bumil dengan status T2 maka bisa diberikan 1 kali suntikan bila interval suntikan sebelumnya 6 bualn. Bila statusnya T3 maka suntikan selama hamil cukup sekali dengan jarak minimal 1 tahun dari suntikan sebelumnya. Ibu hamil dengan status T4 pun dapat diberikan sekali suntikan (TT5) bila suntikan terakhir telah lebih dari satu tahun dan bagi ibu hamil dengan status T5 tidak perlu disuntik TT lagi karena mendapatkan kekebalan seumur hidup (25 tahun).
  6. Pemeriksaan Hb (T6)
    Hb pada ibu hamil tidakboleh kurang dari 11 gr% karena ditakutkan ibu akan Mengalami anemia.
  7. Pemeriksaan VDRL (T7)
  8. Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara (T8)
  9. Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam ibu hamil (T9)
  10. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (T10)
  11. Pemeriksaan protein urine atas indikasi (T11)
  12. Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T12)
  13. Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok (T13)
  14. Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria (T14)
Apabila suatu daerah tidak bisa melaksanakan 14T sesuai kebijakan dapat dilakukan standar minimal pelayanan ANC yaitu 7 T (Prawiroharjo, 2002: 88).
  1. Timbang Berat Badan
    Penimbangan dilakukan setiap kali ibu hamil akan memeriksakan diri. Berat badan ibu hamil yang sehat bertambah antara 10-12 Kg dari ibu sebelum hamil (Nadesul, 2006). Tinggi badan diukur pada kunjungan pertama. Ibu yang memiliki tinggi <145 cm perlu diperhatikan karena kemungkinan panggul sempit sehingga akan menyulitkan pada saat persalinan (Depkes RI, 1998).
  2. Pengukuran Tekanan Darah
    Pengukuran tekanan darah juga harus dicek secara rutin dengan tujuan untuk melakukan deteksi dini tiga gejala preeklamsi. Tiga gejala tersebut yaitu tekanan darah tinggi, protein urin positif, pandangan kabur atau oedema pada ekstremitas. Apabila tekanan darah mengalami kenaikan 15 mmHg dalam dua kali pengukuran dengan jarak 1 jam atau tekanan darah > 140/90 mmHg, maka ibu hamil mengalami preeklamsi. Preeklamsia akan berubah menjadi eklamsi bila tiga gejala tersebut meningkat (Mufdlillah, 2009).
  3. Pengukuran TFU
    Dilakukan dengan rutin untuk memeriksa berat badan janin. Indikator pertumbuhan janin intrauterin, tinggi fundus uteri juga dapat digunakan untuk mendeteksi terhadap terjadinya molahidatidosa, janin ganda atau hidramnion (Nadesul, 2006)
  4. Imunisasi TT

  5. Pemberian 90 Tablet Fe
    Pemberian tablet Fe dimulai setelah rasa mual hilang satu tablet setiap hari, dan minimal 90 tablet. Disetiap tablet terdapat FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 μg. Tablet besi sebaiknya tidak minum bersama kopi, teh karena akan mengganggu penyerapan zat besi (Prawirohardjo, 2006)
  6. Tes Laboratorium
    Wanita hamil merupakan kelompok dengan risiko tinggi terhadap PMS yang dapat menimbulkan kematian pada ibu dan janin yang dikandungnya (Bobak, 2004).
  7. Temu Wicara
    Memberikan penyuluhan sesuai dengan kebutuhan seperti perawatan diri selama hamil, perawatan payudara, gizi ibu hamil, tandatanda bahaya kehamilan dan janin sehingga ibu dan keluarga harus segera mengambil keputusan selanjutnya dan keluhan yang disampaikan (Meilani, et al., 2009).
Pelayanan dalam asuhan antenatal ini dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional (Prawiroharjo, 2002:90-91).


F. Kunjungan Pemeriksaan ANC dan Pemeriksaan Leopold


Kunjungan/pemeriksaan ANC : 
1. Kunjungan pertama, mementukan diagnosis ada tidaknya kehamilan.

2. Kunjungan kedua, menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan.

Menentukan usia kehamilan dilakukan manuver Leopold:
  1. Leopold I:
    Untuk menemukan presentasi dengan cara mengidentifikasi bagian tubuh fetus apa yang berada di fundus dan daerah pelvik.
    Caranya yaitu : Menghadap ke kepala pasien, gunakan jari-jari kedua tangan mempalpasi fundus uteri. Jika kepala yang berada di fundus maka akan terassa keras, bulat dan melenting. Jika bokong teraba di fundus, maka akan terasa lembut, tidak bulat dan gerakan kurang.
  2. Leopold II
    Untuk menemukan posisi janin (punggung janin).
    Caranya yaitu : Menghadap pada kepala pasien, letakkan kedua tangan pada kedua sisi abdomen. Letakkan tangan pada satu sisi dan tangan lain mempalpasi sisi yang  berbeda untuk menemukan bagian punggung janin. Jika punggung akan teraba cembung dan resisten.
  3. Leopold III:
    Untuk mengidentifikasi bagian apa dari janin yang dekat dengan daerah pelvik.
    Caranya yaitu : Letakkan 3 jari pertama tangan yang dominan pada sisi abdomen di atas simpisis pubis dan minta pasien menarik napas panjang dan menghembuskannya. Pada saat mengeluarkan napas, gerakkan tangan turun perlahan dan menekan sekitar daerah tersebut. Jika kepala akan teraba keras, bulat, dan bergerak jika disentuh. Jika  bokong akan teraba lembut dan tidak beraturan.
  4. Leopold IV
    Untuk mengidentifikasi bagian yang menonjol dari bagian terendah janin masuk ke  pintu atas panggul.
    Caranya yaitu : Menghadap ke kaki pasien dengan lembut gerakan tangan turun ke sisi abdomen mendekati pelvis sampai salah satu tangan merasakan bagian tulang yang timbul.
    Ada 2 keadaan yaitu:
    Konvergen (belum masuk PAP)yaitu jika bagian yang masuk baru sebagian kecil, sejajar yaitu jika bagian yang masuk baru setengah,
    divergen (sudah masuk PAP) yaitu jika hampir sebagian besar dari tubuh janin masuk ke dalam rongga panggul.

Perkiraan persalinan menggunakan rumus Naegele: ·
  • Hari +7, Bulan -3,Tahun +1 jika bulan HPHT bulan April s/d Desember ·
  • Hari +7, Bulan +9,Tahun jika bulan HPHT bulan Januari s/d Maret

3. Kunjungan ketiga, menentukan status kesehatan ibu dan janin.

4. Kunjungan keempat, menentukan kehamilan normal atau abnormal, serta ada/tidaknya faktor risiko kehamilan.

5. Kunjungan kelima, menentukan rencana pemeriksaan/penatalaksanaan selanjutnya.

Tujuan Pemeriksaan panggul luar 
  1. Mengetahui panggul seseorang normal atau tidak 
  2. Memudahkan dalam mengambil tindakan selanjutnya 
  3. Mengetahui bentuk atau keadaan panggul seseorang. 

Indikasi Pemeriksaan panggul dilakukan: 
  1. Pada pemeriksaan pertama kali bagi ibu hamil. 
  2. Pada ibu yang pernah melahirkan bila ada kelainan pada persalinan yang lalu. 
  3. Ibu yang akan bersalin bila sebelumnya belum pernah memeriksakan diri terutama  pada primipara. 

Ukuran-ukuran luar yang terpenting: 
  1. Distansia spinarum yaitu : jarak antara spina illiaka anterior superior kanan dan kiri ( normal: 23-26 cm). 
  2. Distansia cristarum yaitu : jarak yang terpanjang antara crista illiaca kanan dan kiri (normal: 26-29). 
  3. Conjugata eksterna yaitu : (Boudelocque) : jarak antara pinggir atas simpisis dan ujung  prosessus spinosus (ruas tulang lumbal ke lima) (normal: 10-20 cm). 
  4. Lingkar panggul yaitu : jarak dari pinggir atas simpisis melalui spina illiaca anterior superior kanan ke pertengahan trochanter mayor kanan ke pertengahan trochanter mayor kiri ke pertengahan spina illiaca anterior superior kiri kemudian kembali ke atas simpisis (normal : 80-90 cm)


G. Perubahan Anatomi selama Kehamilan

1.  Adaptasi Fisiologi

a. Perubahan fisiologis
  1. Uterus
    Uterus bertambah besar, dari alat yang beratnya 30 gram menjadi 1000 gram, dengan ukuran panjang 32 cm, lebar 24 cm, dan ukurang muka  belakang 22 cm. Pertumbuhan uterus tidak rata, uterus lebih cepat tumbuh di daerah implantasi dari ovum dan di daerah insersi placenta. Pembesaran ini disebabkann oleh hypertrophy dari otot-otot rahim, tetapi pada kehamilan muda juga terbentuk sel-sel otot yang baru. Uterus pada wanita hamil sering berkontraksi tanpa perasaan nyeri. Juga saat disentuh, misalnya pada pemeriksaan dalam, pemeriksa dapat meraba  bahwa sewaktu pemeriksaan konsistensi rahim yang semula lunak dapat menjadi keras dan kemudian lunak kembali (Kusmiyati, et al, 2008).
  2. Cervix
    Perubahan penting yang terjadi pada cervix dalam kehamilan adalah menjadi lunaknya cervix. Perubahan ini sudah dapt ditemukan sebulan setelah konsepsi. Pelunakan cervis terjadi karena pembuluh darah dalam cervix  bertambah dan karena timbulnya oedema dari cervix dan hyperplasia kelenjar-kelenjar servix.
  3. Vagina
    Pembuluh darah dinding vagina bertambah, hingga warna selaput lendirnya membiru, kekenyalan vagina bertambah yang berarti daya regangnya bertambah sebagai persiapan persalinan. Getah dalam vagina  biasanya bertambah dalam masa kehamilan, reaksinya asam dengan pH 3,5-6,0. reaksi asam ini disebabkan terbentuknya acidum lacticum  sebagai hasil  penghancuran  glycogen yang berada dalm sel-sel epitel vagina oleh basil-basil doderlein. Reaksi asam ini mempunyai sifat bekterisida.
  4. Ovarium
    Pada salah satu ovarium dapat ditemukan corpus lutheum graviditatis, teapi setelah bulan ke-4 corpus lutheum  ini akan mengisut.
  5. Dinding perut
    Pada kehamilan lanjut pada primi gravida sering timbul garis-garie memanjang atau serong pada perut. Garis-garis ini disebut striae gravidarum. Kadang-kadang garis-garis itu terdapat juga pada buah dada dan paha. Pada seorang primi gravida warnanya menbiru disebut striae lividae.  Pada seorang multigravida, di samping strie lividae, terdapat juga garis-garis putih agak mengkilat ialah parut (cicatrick) dari strie gravidarum yang disebut strie albicans.
  6. Kulit
    Pada kulit terdapat hyperpigmentasi antara lain pada areolla mammae,  papilla mammae, dan linea alba. Pada umumnya setelah partus, gejala hyperpigmentasi ini akan menghilang.
  7. Payudara
    Payudara biasanya membesar disebabkan karena hypertophi olveoli. Di  bawah kulit payudara sering tampak gambaran-gambaran dari vena yang meluas. Putting susu biasanya membesar dan lebih tua warnanya dan acapkali mengeluarkan colostrum. Perubahan-perubahan pada payudara disebabkan karena pengaruh hormonal.
  8. Pertukaran zat
    Metabolisme basal naik pada kehamilan, terjadi penimbunan protein sedangkan dalam darah kadar zat lemak naik dan ada kecenderungan pada ketosis. Kebutuhan akan calcium dan phosphor bertambah untuk pembuatan tulang-tulang janin begitu pula akan ferum untuk pembentukan Hb janin.
  9. Darah
    Volume darah bertambah, baik plasmanya maupun erytrosyt, tetapi  penambahan volume plasma yang disebabkan oleh hydramia lebih menonjol hingga biasanya kadar Hb turun. Batas-batas fisiologis ialah :
    1) Hb 10 gr%
    2) erytrosyt 3,5 juta per mm3
    3) leucocyt 8.000-10.000 per mm3
    Jantung lebih berat bebannya disebabkan penambahan volume darah,  perluasan daerah pengaliran, fetus yang membesar dan adanya placenta, lagipula jantung terdorong ke atas sehingga sumbunya berubah. Kegiatan paru-paru pun bertambah karena selain untuk mencukupi kebutuhan ibu sendiri juga harus mencukupi kebutuhan janin akan 02.
  10. Gastrointestinal
    Sekresi asam lambung dan gerakan lambung berkurang, hal tersebut mungkin menyebabkan muntah dan kembung pada masa kehamilan. Tonus usus kurang, yang menimbulkan obstipasi.
  11. Urinarius 
    Kegiatan ginjal semakin bertambah berat karena harus juga mengeluarkan racun-racun dari peredaran darah janin. Ureter jelas melebar dalam kehamilan teruatam yang kanan. Hal ini disebabkan karena pengaruh hormon progesterone, walaupun mungkin ada  juga factor tekanan pada ureter oleh rahim yang membesar. Kapasitas kandung kencing juga mengalami penurunan kapasitas karena desakan oleh rahim yang membesar pada akhir kehamilan oleh kepala  janin yang yang turun ke dalam rongga panggul.
  12. Hormonal
    Kelenjar endokrin seperti kelenjar tiroid, hipofise anterior, dan kelenjar suprarenalis menunjukkan hiperfungsi atau hipertropi.
  13. Kelenjar adrenal Ukuran kelenjar adrenal meningkat selama kehamilan, terutama bagian kortika yang membentuk kortin. Jumlah ion natrium dan kalium dalam darah diatur oleh kortin. Bagian medula dari kelenjar adrenal mensekresi epinephrin, hormon yang sangat penting. Kehamilan tidak mengubah ukuran atau fungsi  bagian medula.
    Hormon-hormon yang signifikan dalam kehamilan:
    1. HCG (human chorionic gonadotropin)
      - dihasilkan oleh sel-sel trofoblast
      - puncaknya pada minggu ke-9 – 13
      - mempertahankan korpus luteum sampai plasenta mengambil alih 
    2. HPL (human placental lactogen)
      - Dihasilkan oleh sel-sel synsitio tropoblas
      - Kerjanya berlawanan dengan insulin
      - Mempunyai pengaruh peningkatan asam lemak bebas dan menurunkan metabolisme glukosa 
    3. Estrogen
      - Dihasilkan oleh ovarium dan plasenta.
      - Berperan dalam perkembangan uterus dan mammae, meningkatkan  pigmen kulit, meretensi Na + dan air, serta menurunkan hidrokloric asam lambung.  

b. Adaptasi Psikologis
     Konsepsi dan implantasi sebagai titik awal kehamilan menimbulkan  perubahan status emosional seorang calon ibu. Bagi pasangan dengan perkawinan yang dilandasi oleh rasa cinta dan saling mencintai, keterlambatan datang bulan merupakan salah satu tanda yang menggembirakan, karena ikatan batin antara keduanya semakin kokoh dengan adanya kehamilan yang didambakan.

      Keterlambatan datang bulan diikuti perubahan subjektif seperti perasaan mual, ingin muntah, sebah di bagian perut atas, pusing kepala, dan nafsu makan berkurang mendesak keluarga untuk melakukan pemeriksaan. Setelah terbukti terjadi kehamilan perasaan cinta dan gembira semakin  bertambah, diikuti pula oleh perasaan cemas karena kemungkinan keguguran. Disamping itu perubahan fisiologis kehamilan juga dapat mempengaruhi kelabilan mental, hingga menimbulkan ngidam dan perubahan kelakuan. (Masriroh, 2013).


H. Keluhan Selama Masa Kehamilan

Keluhan pada masa hamil adalah suatu kondisi bersifat subyektif dimana pada individu yang hamil terjadi proses adaptasi terhadap kehamilannya (Depkes RI, 2007). Keluhan-keluhan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
  1. Keluhan triwulan I (usia kehamilan 1 – 3 bulan)
    1. Mual dan muntah : Terutama terjadi pada pagi hari dan akan hilang menjelang tengah hari (morning sickness).
    2. Perasaan neg atau mual: Terutama bila mencium bau yang menyengat.
    3. Pusing terutama bila akan bangun dari tidur, hal ini terjadi karena adanya gangguan keseimbangan, perut kosong. 
    4. Sering kencing: Karena tekanan uterus yang membesar dan menekan pada kandung kencing. 
    5. Keputihan (lekorea): Pengaruh peningkatan hormon kehamilan (estrogen dan  progesteron) yang mempengaruhi mukosa serviks dan vagina. 
    6. Pengeluaran darah pervaginam: Bila terjadi perdarahan pervaginam perlu diwaspadai adanya abortus. 
    7. Perut membesar. 
    8. Psikologis: Perasaan gembira dengan penerimaan kehamilan akan mempengaruhi penerimaan ibu terhadap kelainan-kelainan yang timbul. Sebaliknya karena menolak kehamilan, keluhan tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman dan menimbulkan antipati terhadap kehamilannya. Pada masa ini sering timbul konflik karena pengalaman baru, sehingga ibu hamil perlu mendapatkan perhatian dan dukungan suami.
  2. Keluhan triwulan II (usia kehamilan 4 –  6 bulan).
    Pada masa ini keluhan yang bersifat subyektif sudah berakhir, sehingga bila ada ibu hamil masih mendapatkan keluhan seperti pada trimester I, perlu diwaspadai kemungkinan adanya faktor psikologis.
    Pada triwulan ini sering ditandai adanya adaptasi ibu terhadap kehamilannya,  perasaan ibu cenderung lebih stabil, karena keluhan yang terjadi pada triwulan I sudah terlewati. Ibu merasakan pengalaman baru, mulai merassakan gerakan bayi, terdengarnya DJJ, melalui alat doptone atau melihat gambar/posisi melalui  pemeriksaan USG. Triwulan II juga dikatakan fase aman untuk kehamilan, sehingga aktifitas ibu dapat berjalan tanpa gangguan berarti.
  3. Keluhan pada triwulan III (usia kehamilan 7 –  9 bulan).
    Kejadian yang sering timbul antara lain:
    1. Pusing disertai pandangan berkunang-kunang. Hal ini dapat menunjukkan kemungkinan terjadi anemia dengan Hb < 10 gr%. 
    2. Pandangan mata kabur disertai pusing. Hal ini dapat digunakan rujukan kemungkinan adanya hipertensi. 
    3. Kaki edema. Edema pada kaki perlu dicurigai karena sebagai salah satu gejala dari trias klasik eklamsi. Sesak napas pada triwulan III perlu dicurigai kemungkinan adanya kelainan letak (sungsang). 
    4. Perdarahan. Pada triwulan III bisa terjadi perdarahan pervaginam perlu dicurigai adanya placenta praevia atau solusio plasenta. 
    5. Keluar cairan di tempat tidur pada siang atau malam hari, bukan pada saat kencing, perlu diwaspadai adanya ketuban pecah dini. 
    6. Sering kencing. Akibat penekanan pada kandung kencing akibat masuknya kepala ke pintu atas panggul. 
    7. Psikologis: Kegembiraan ibu karena akan lahirnya seorang bayi (Purwaningsih, dkk, 2010). 

I. Komplikasi Masa Kehamilan

Ada beberapa komplikasi pada kehamilan, antara lain (Masriroh, 2013) :
  1. Hiperemisis gravidarum.  
  2. Hipertensi dalam kehamilan.  
  3. Perdarahan trimester I (abortus).  
  4. Perdarahan antepartum.  
  5. Kehamilan ektopik.  
  6. Kehamilan kembar. 
  7.  Molahydatidosa.  
  8. Inkompatibilitas darah.  
  9. Kelainan dalam lamanya kehamilan.  
  10. Penyakit serta kelainan plasenta dan selaput janin. (Bobak, 2004). 

J. Pathway Antenatal

Pathway Antenatal Care, WOC ANC, WOC Antenatal Care, Patofisiologi Antenatal Care
pathway kehamilan

J. Pemeriksaan Penunjang

  1. Darah ( Hb, Gol darah, Glukosa, VDRL).  
  2. Urine (Tes kehamilan, protein, glukosa, analisis). 
  3. Pemeriksaan Swab (Lendir vagina & servik). 
  4. U S G (Jenis kelamin, Taksiran kelahiran, TBJ, Jumlah cairan amnion. (Masriroh, 2013).

K. Konsep Asuhan Keperawatan

Fokus Pengkajian Keperawatan
1. Aktivitas dan Istirahat
  • Tekanan darah agak lebih rendah daripada normal (8 – 12 minggu) kembali pada tingkat pra kehamilan selama setengah kehamilan terakhir.  
  • Denyut nadi dapat meningkat 10 – 15 DPM. 
  • Murmur sistolik pendek dapat terjadi sampai dengan peningkatan volume episode singkope. 
  • Varises 
  • Sedikit edema ekstremitas bawah/tangan mungkin ada (terutama pada trisemester akhir) 
2. Integritas Ego
  • Menunjukkan perubahan persepsi diri 
3. Eliminasi
  • Perubahan pada konsistensi / frekuensi defekasi  
  • Peningkatan frekuensi perkemihan
  • Urinalisis: Peningkatan berat jenis 
  • Hemoroid 
4.  Makanan/Cairan 
  • Mual dan muntah, terutama trisemester pertama; nyeri ulu hati umum terjadi 
  • Penambahan berat badan: 2 sampai 4 lb trisemester pertama, trisemester kedua dan ketiga masing-masing 11 – 12 lb.
  • Membran mukosa kering: hipertropi jaringan gusi dapat terjadi mudah  berdarah 
  • Hb dan Ht rendah mungkin ditemui (anemia fisiologis) 
  • Sedikit edema dependen - Sedikit glikosuria mungkin ada 
  • Diastasis recti (separasi otot rektus) dapat terjadi pada akhir kehamilan. 
5.  Nyeri dan Kenyamanan 
  • Kram kaki; nyeri tekan dan bengkak pada payudara; kontraksi Braxton Hicks terlihat setelah 28 minggu; nyeri punggung 
6. Pernapasan 
  • Hidung tersumbat; mukosa lebih merah daripada normal  
  • Frekuensi pernapasan dapat meningkat terhadap ukuran/tinggi;  pernapasan torakal. 
7. Keamanan 
  • Suhu tubuh 98 – 99,5 ºF (36,1 – 37,6 ºC)  
  • Irama Jantung Janin (IJJ) terdengar dengan Doptone (mulai 10 – 12 minggu) atau fetoskop (17 - 20 minggu) 
  • Gerakan janin terasa pada pemeriksaan setelah 20 minggu. Sensasi gerakan janin pada abdomen diantara 16 dan 20 minggu. 
  • Ballottement ada pada bulan keempat dan kelima. 
8. Seksualitas 
  • Penghentian menstruasi
  • Perubahan respon /aktivitas seksual 
  • Leukosa mungkin ada. d
  • Peningkatan progresif pada uterus mis: Fundus ada di atas simfisis pubis (pada 10 - 12 minggu) pada umbilikolis (pada 20– 30 minggu) agak ke  bawah kartilago ensiform (pada 36 minggu) 
  • Perubahan payudara: pembesaran jaringan adiposa, peningkatan vaskularitas lunak bila dipalpasi, peningkatan diameter dan pigmentasi  jaringan arcolar, hipertrofi tberkel montgemery, sensasi kesemutan (trisemester pertama dan ketiga); kemungkinan strial gravidarum kolostrum dapat tampak setelah 12 minggu 
  • Perubahan pigmentasi: kloasma, linea nigra, palmar eritema, spicler nevi, strial gravidarum. 
  • Tanda-tanda Goodell, Hegar Schdwick positif. 
9.Integritas Sosial 
  • Bingung/meragukan perubahan peran yang dintisipasi. 
  • Tahap maturasi/perkembangan bervariasi dan dapat mundur dengan stressor kehamilan
  • Respons anggota keluarga lain dapat bervariasi dari positif dan mendukung sampai disfungsional. 
10. Penyuluhan/Pembelajaran 
  • Harapan individu terhadap kehamilan, persalinan/melahirkan tergantung pada usia, tingkat pengetahuan, pengalaman paritas, keinginan terhadap anak, stabilitas ekonomik. 
11.  Pemeriksaan Diagnostik 
  • DL menunjukkan anemia, hemoglobinipatis (mis: sel sabit)  
  • golongan darah: ABO DAN Rh untuk mengidentifikasi resiko terhadap inkompatibilitas 
  • Usap vagina/rectal: tes untuk Neisseria gonorrhea, Chlamydia 
  • Tes serologi: menentukan adanya sefilis (RPR: Rapid Plasma Reagen) 
  • Penyakit Hubungan Kelamin lain (PHS) seperti diindikasikan oleh kutil vagina, lesi, rabas abnormal. 
  • Skrining: terhadap HIV, hepatitis, tuberculosis 
  • Papanicolaow Smear: mengidentifikasi neoplasia, herpes simpleks tipe 2 
  • Urinalisis: skin untuk kondisi media (mis: pemastian kehamilan infeksi, diabetes penyakit ginjal) 
  • Ter serum/urin untuk gadadotropin karionik manusia (HCG) positif 
  • Titer rubella > a : a O menunjukkan imunitas \
  • Tes sonografi: ada janin setelah gestasi 8 minggu 
  • Skin glukosa serum / 1 jam tes glukosa: < 140 jam mg/dl (biasanya dilakukan antara 24 sampai 28 minggu. Evaluasi selanjutnya dari folus  pengkajian dilakukan pada setiap kunjungan prenatal

L. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan

  1. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Trisemseter 1, silahkan klik disini
  2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Trisemseter 2, silahkan klik disini
  3. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Trisemseter 3, silahkan klik disini



Demikianalh artikel yang telah kami sajikan ini, semoga apa yang telah kami sajikan dan sampaikan tersebut bermanfaat bagi teman-teman semua dan terus belajar atau buat makalah kalian yang bersumber dari sini. Terimakasih atas kunjungannya dan sampai jumpa lagi


Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Laporan Pendahuluan dan Askep Antenatal Care, semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami. Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

0 komentar