Asuhan Keperawatan Pada Ibu Hamil Trimester 2

10:08 AM

Diagnosa dan Intervensi Pada Ibu Hamil Trimester 2


Dibawah ini adalah penjelasan rinci mengenai diagnosa serta Intervensi pada ibu hamil trimester II, semoga bermanfaat

Diagnosa dan Intervensi Pada Ibu Hamil Trimester 2
diagnosa kehamilan trimester 2


A. Diagnosa Pada Ibu Hamil Trimester Kedua

  1. Gangguan citra tubuh b.d perubahan biofisik, respon orang lain
  2. Pola nafas tidak efektif b.d pergeseran diafragma karena pembesaran uterus
  3. Kurang pengetahuan mengenai kemajuan alamiah dari kehamilan b.d kebutuhan informasi sesuai.
  4. Resiko tinggi cidera tehadap janin b.d masalah kesehatan ibu,pemanjaan pada agen infeksi.
  5. Resiko tinggi kelebihan volume cairan b.d perubahan mekanisme regulator retensi natrium/air.
  6. Perubahan pola seksualitas b.d  Konflik mengenai perubahan hasrat seksual dan harapan, takut akan cedera fisik.


B. Intervensi Keperawatan

1. Gangguan citra tubuh b.d perubahan biofisik, respon orang lain

Tujuan :
  • Klien Mengungkapkan penerimaan / adaptasi bertahap untuk mengubah konsep diri / citra tubuh.
Kriteria Hasil :
  • klien mulai berorientasi terhadap tujuan hidup
  • klien dapat melakukan aktivitas secara normal

Intervensi Keperawatan Rasional
Tinjau ulang / kaji sikap terhadap kehamilan ,perubahan bentuk tubuh, dan sebagainya.



Pada trimester kedua, perubahan bentuk telah tampak. Respon negatif dapat terjadi pada klien / pasangan yang memiliki konsep diri yang rapuh, didasarkan pada penampilan fisik.

Diskusikan perubahan aspek fisiologis, dan respon klien terhadap perubahan. Berikan informasi tentang kenormalan perubahan.


Individu bereaksi secara berbeda terhadap perubahan bahan yang terjadi. Informasi dapat membantu klien memahami / menerima apa yang terjadi.

Anjurkan gaya dan sumber – sumber yang tersedia dari pakaian saat hamil



Situasi individu menandakan kebutuhan akan pakaian yang akan meningkatkan penampilan klien untuk kerja dan melakukan aktivitas yang menyenangkan

Diskusikan metode perawatan kulit dan berias untuk meminimalkan / menyembunyikan kulit yang menjadi gelap ), menggunakan kaus kaki penyokong, pemeliharaan postur, dan program latihan sedang

Belajar dan ikut untuk melihat dan merasa lebih baik mungkin membantu untuk mempertahankan perasaan positif tentang diri.



Rujuk pada sumber – sumber lain seperti konseling dan / atau kelas – kelas pendidikan kelahiran anak dan menjadi orang tua

membantu dalam memberikan dukungan tambahan, selama periode perubahan ini; mengidentifikasi model – model peran



2. Pola nafas tidak efektif b.d pergeseran diafragma karena pembesaran uterus

Tujuan :
  • Pola nafas kembali efektif atau normal
Kriteria Hasil :
  • Melaporkan penurunan frekuensi / beratnya keluhan
  • Mendemonstrasikan perilaku yang mengoptimalkan fungsi pernapasan.

Intervensi KeperawatanRasional
Kaji status pernapasan





Menentukan luas / beratnya masalah, yang terjadi pada kira – kira 60% klien pranatal. Meskipun kapasitas vital meningkat, fungsi pernapasan diubah saat kemampuan diafragma untuk turun pada inspirasi berkurang oleh pembesaran uterus

Dapatkan riwayat dan pantau masalah medis yang terjadi / ada sebelumnya ( mis : alergi rinitis, asma, masalah sinus, tuberkulosis ).

Masalah lain dapat terus mengubah pola pernapasan dan menurunkan oksigenasi jaringan ibu / janin

Kaji kadar hemoglobin (Hb) dan hematokrit ( Ht) tekankan pentingnya masukan vitamin / fero sulfat pranantal setiap hari ( kecuali pada klien dengan anemia sel sabit )

Peningkatan kadar plasma pada gestasi minggu ke 24-32 mengencerkan kadar Hb, mengakibatkan kemungkinan anemia dan menurunkan kapasitas pembawa oksigen

Berikan Informasi tentang rasional untuk kesuilitan pernapasan dan program aktivitas / latihan yang realitis. Anjurkan sering istirahat, tambah waktu untuk melakukan aktivitas tertentu, dan latihan ringan, seperti berjalan.

Menurunkan kemungkinan gejala – gejala pernapasan yang disebabkan oleh kelebihan.




Tinjau ulang tindakan yang dapat dilakukan klien untuk mengurangi masalah ; misalnya postur yang baik, menghindari merokok, makan sedikit tetapi lebih sering, dengan menggunakan posisi semi – Fowler untuk duduk / tidur bila gejala berat. 1.

Postur yang baik dan makan sedikit membantu memaksimalkan penurunan diafragmatik, meningkatkan ketersediaan ruang untuk ekspansi paru. Merokok menurunkan persediaan oksigen untuk pertukaran ibu-janin. Pengubahan posisi tegak dapat meningkatkan ekspansi paru sesuai penurunan uterus gravid


3. Kurang pengetahuan mengenai kemajuan alamiah dari kehamilan b.d kebutuhan informasi sesuai.

Tujuan :
  • Pengetahuan Klien meningkat dan klien dapat memahami situasi dan cara penanganan masalah
Kriteria Hasil :
  • Mengungkapkan / mendemonstrasikan perilaku perawatan diri yang meningkatkan kesejahteraa
  • Bertanggung jawab terhadap perawatan kesehatannya sendiri
  • Mengenali dan melakukan tindakan untuk meminimalkan dan mencegah faktor resiko
  • Mengidentifikasi tanda – tanda bahaya / mencari perawatan medis dengan tepat.

Intervensi Keperawatan Rasional
Tinjau ulang perubahan yang diharapkan selama trismeter kedua.


Pertanyaan timbul sesuai perubahan baru yang terjadi, tanpa memperhatikan apakah perubahan diharapkan atau tidak.

Lakukan / lanjutkan program penyuluhan sesuai pedoman pada MK : Trimester pertama, DK ; Kurang Pengetahuan [ Kebutuhan Belajar ]

Pengulangan menguatkan penyuluhan, dan bila klien belum melihat sebelumnya, informasi bermanfaat pada saat ini.

Berikan informasi tentang kebutuhan terhadap fero sulfat dan asam folat.






Fero dan asam folfat membantu mempertahankan kadar Hb normal . Defisiensi asam fosfat memperberat anemia megaloblastik, kemungkinan abrupsi plasenta, aborsi dan malformasi janin. ( Catatan : Klien dengan anemia , sela sabit memerlukan peningkatan asalm fosfat selama dan seluruh episode kritis )

Identifikasi kemungkinan risiko kesehatan individu (mis, aborsi spontan, hipoksia yang berhubungan dengan asma atau tuberkulosis,penyakit jantung, hipertensi akibat kehamilan [HAK], kelainan ginjal, anemia, diabetes melitus gestasioanl [DMG] ; penyakit hubungan seksual [PHS]. Tinjau ulang tanda – tanda bahaya dan tindakan yang tepat.

Membantu mengingatkan / informasi untuk klien tentang potensial situasi risiko tinggi yang memerlukan pemantauan lebih ketat dan / atau intervensi.





Diskusikan adanya obat – obatan yang mungkin diperlukan untuk mengontrol atau mengisi masalah medis

Membantu dalam memilih tindakan karena kebutuhan harus ditekankan pada kemungkinan efek berbahaya pada janin.

Diskusikan kebutuhan terhadap pemeriksaan laboratorium khusus, skrining, dan pemantauan ketat sesuai indikasi.










Kunjungan pranantal yang lebih sering mungkin diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu. Pemantauan Hb dan Ht dengan menggunakan elektroforesis mendeteksi anemia\ khusus dan membantu dalam menentukan penyebab. Skrining untuk DMG pada gestasi minggu ke 24 – 26 atau pada gestasi minggu ke -8 dan ke 32 pada klien resiko tinggi dapat mendeteksi terjadinya hiperglikemia, dapat memerlukan tindakan dengan insulin dan / atau diet menurut American Diabetes Association (Rujuk pada MK : Diabetes Mellitus : Prekehamilan / Gestasional ; resiko Tinggi Kehamilan)


4. Resiko tinggi cidera tehadap janin b.d masalah kesehatan ibu,pemanjaan pada agen infeksi.

Tujuan :
  • Cedera Janin tidak terjadi
Kriteria Hasil : 
  • Klien dapat Mengungkapkan kesadaran tentang faktor resiko
  • Klien dapat Menghidari faktore dan / atau menghindari perilaku yang dapat memperberat cedera janin

Intervensi Keperawatan Rasional
Tentukan pemahaman sebelum informasi diberikan ( Rujuk pada MK, Trisemester Pertama DK : Cedera, resiko tinggi terhadap, janin)



Mengidentifikasi kebutuhan / masalah individu dan memberikan kesempatan untuk memperjelas kesalahan konsep, khususnya untuk klien yang saat ini melakukan kunjungan pranatal pertama kali.

Tinjau ulang status kesehatan ibu ; misal malnutrisi, penyalahgunaan / penggunaan zat. ( Rujuk pada MK : Trimester Pertama, DK : Nutrisi , perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh )

Faktor – faktor ini dapat mempunyai dampak besar pada perkembangan jaringan dan rgan janin, dan identifikasi serta intervensi awal dapat mencegah hasil yang buruk.

Kaji faktor lain yang aa pada situasi ini yang mungkin berbahaya pada janin ( mis., pemajanan pada virus / PHS lain , faktor lingkungan ). Rujuk pada MK : infeksi Pranatal).



Identifikasi memungkinkan klien dan perawat untuk mendiskusikan cara – cara untuk meminimalkan / mencegah cedera. PHS atau virus – virus lain mungkin merupakan masalah ringan bagi klien, tetapi berdampak negatif yang besar pada kesejahteraan janin.

Perhatikan quickening ( persepsi ibu terhadap gerakan janin ) dan denyut jantung janin ( DJJ). Rujuk pada dokter bila ditemukan masalah.





Gerakan janin yang dapat dirasakan pertama terjadi diantara gestasi minggu ke -16 dan ke -20 sesuai peningkatan ukuran janin ; kurang gerakan dapat menandakan adanya masalah. Kegagalan untuk mendeteksi DJJ dapat menandakan penurunan janin atau tidak adanya janin / adanya mola hidatidosa.

Kaji pertumbuhan uterus dan tinggi fundus pada setiap kunjungan.

Merupakan skrining untuk gestasi multipel, pertumbuhan janin normal atau abnormal ; dapat mendeteksi masalah yang berhubungan dengan polihidramnion atau oligohidramnion

Berikan informasi tentang tes – tes diagnostik atau prosedur. Tinjau ulang resiko dan potensial efek samping.




Mempunyai informasi yang membantu klien / pasangan untuk menghadapi situasi dan membuat keputusan berdasarkan informasi. Masalah genetik tertentu seperti kerusakan tuba neural ( NTD : neural tube defect ) dapat dideteksi pada tahap ini.

Kolaborasi Bantu dengan prosedur ultrasonografi, dan jelaskan tujuannya







Mendeteksi adanya janin di awal minggu ke 5 – 6 gestasi dan memberikan informasi tentang pertumbuhan janin dengan menggunakan pengukuran kepala sampai kaki, panjang femur, dan diameter biparietal, untuk memastikan usia gestasi dan mengesampingkan retardasi pertumbuhan. Juga menentukan ukuran dan lokasi plasenta dan dapat mendeteksi beberapa abnormalitas janin


5. Resiko tinggi kelebihan volume cairan b.d perubahan mekanisme regulator retensi natrium/air.

Tujuan :
  • Tidak terjadi kelebihan volume cairan 
Kriteria Hasil :
  • Mengidentifikasi tanda / gejala yang memerlukan evaluasi / intervensi medis.
  • Bebas dari hipertensi albuminuria, retensi cairan berlebihan dan edema wajah

Intervensi Keperawatan Rasional
Pantau berat badan secara teratur



Mendeteksi penambahan beratbadan berlebihan dan retensi cairan yang tidak kelihatan, yang potensial patologis.

Kaji adanya tanda – tanda HKK, perhatikan tekanan darah. Pantau lokasi / luasnya edema, masukan atau haluran cairan.Perhatikan laporan – laporan gangguan penglihatan, sakit kepala, nyeri epigastrik atau adanya hiperrefleksia.




Indikator edema patologis. Meskipun HKK karena retensi cairan berlebihan biasanya tidak terlihat sampai akhir minggu ke 10 kehamilan, dapat terjadi di awal, khusunya pada klien dengan faktor – faktor predisposisi seperti diabetes, penyakit ginjal, hipertensi, gestasi multipel, malnutrisi ( kelebihan berat badan atau kurang berat badan ), mola hidatidosa

Tes urin terhadap albumin



Deteksi masalah vaskular berkenaan denga spasme glomerular dari ginjal, yang menurunkan resorpsi albumin.

Berikan informasi tentang diet ( mis, peningkatan protein, tidak menambahkan garam meja, menghindari makanan dan minuman tinggi natrium )

Nutrisi adekuat, khusunya peningkatan protein, menurunkan kemungkinan HAK. Natrium berlebihan dapat memperberat retensi air ( terlalu sedikit natrium dapat mengakibatkan dehidrasi )

Anjurkan meninggikan ekstremitas secara periodik selama sehari




Edema fisiologis dari ekstremitas bawah terjadi di penghujung hari adalah normal, tetapi harus dapat diatasi dengan tindakan sederhana. Bila ini tidak teratasi, pemberi pelayanan kesehatan harus diberi tahu

Tinjau ulang kadar Ht ( Perhatikan efek dari variabel – variabel, seperti sikap dan ras )


Pada umumnya, kadar > 41% ( Caucasian ) atau > 38% ( keturunan Afrika ) menunjukkan perpindahan cairan intravaskular mengakibatkan edema jaringan.

Kolaborasi
Jadwalkan kunjungan pranatal lebih sering dan lakukan pengobatan bila ada HAK ( Rujuk pada MK : Hipertensi Karena Kehamilan )
Perawatan membantu meningkatkan kesejahteraan ibu / janin.



6. Perubahan pola seksualitas b.d  Konflik mengenai perubahan hasrat seksual dan harapan, takut akan cedera fisik.

Tujuan :
  • Tidak terjadi perubahan pola seksual / tidak terjadi gangguan dalam pola seksual
Kriteria Hasil :
  • Mendiskusikan masalah seksual
  • Mengungkapkan pemahaman tentang alasan yang mungkin untuk diubah
  • Mengidentifikasi alternatif yang dapat diterima untuk memenuhi kebutuhan individu
  • Mengungkapkan kepuasan bersama atau konseling bila dibutuhkan

Intervensi Keperawatan Rasional
Diskusikan dampak kehamilan terhadap pola koitus seksual yang normal. ( Rujuk pada MK : Trimester Pertama, DK : Pola Seksualitas, perubahan )






Kepuasan seksual yang optimal untuk klien pranatal terjadi pada trimester kedua karena vasokongesti pelvis / perineal meningkatkan kenikmatan orgasme. Pria dapat mengalami berbagai perasaan saat berespons terhadap peningkatan hasrat pasangannya dan menjadi bingung karena penurunan atau peningkatan hasrat seksualnya sendiri dalam memberi respons terhadap perubahan bentuk tubuh pasangannya.

Tinjau ulang apa yang dirasakan dan diskusikan kemungkinan pilihan dalam peningkatan kontak fisik melalui berpelukan dan bercumbu daripada melakukan koitus secara aktual.



Rasa takut mencederai janin pada saat koitus adalah hal yang umum. Meyakinkan dan memperhatikan bahwa hal tersebut normal dapat membantu menghilangkan ansietas. Pilihan lain akan diterima dengan baik bila keduanya dipuaskan.

Tinjau ulang perubahan posisi yang mungkin dilakukan dalam aktivitas seksual

Membantu pasangan untuk mempertimbangkan / membuat pilihan

Waspadai adanya indikasi kemungkinan kesulitan seksual atau perilaku yang tidak sesuai dari pria



Disini tampak frekuensi penyimpangan menjadi lebih tinggi ( misal,perkosaan, inses, kejahatan kekerasan, dan perselingkuhan ekstramarital) bila pasangan sedang hamil.

Kolaborasi
Rujuk pada perawat klinis spesialis / konseling sesuai indikasi


Mungkin perlu bantuan tambahan untuk mengatasi masalah dasar, yang dapat berkembang selama kehamilan atau mungkin sudah ada sebelumnya


Baca Juga :
Sumber : Perawat Kita Satu

Demikianlah artikel yang dapat kami sajikan tentang Diagnosa dan Intervensi Pada Ibu Hamil Trimester 2 ini, semoga apa yang telah kami sajikan ini bermanfaat bagi teman-teman semua dan sampai jumpa lagi dipertemuan lainnya.

Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Asuhan Keperawatan Pada Ibu Hamil Trimester 2, semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami. Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

0 komentar