Laporan Pendahuluan dan Askep Abortus Imminens pdf, doc

2:33 PM

Laporan Pendahuluan dan Askep Abortus Imminens


Dibawah ini kami berikan sebuah laporan pendahuluan serta asuhan keperawatan pada pasien Abortus Imminens, semoga artikel yang kmai berikan ini bermanfaat bagi teman-teman semua.


Perempuan adalah pembawa kehidupan. Memelihara manusia di dalam rahim selama sembilan bulan bukanlah prestasi kecil, itulah sebabnya ketika seorang wanita dan orang lain yang signifikan belajar tentang kehamilannya, mereka selalu bekerja ekstra untuk memastikan bahwa kesehatan dan keselamatan ibu dan anak bayi masih utuh. Kami, sebagai perawat, juga memiliki tanggung jawab utama untuk diberitahu tentang bahaya bagi wanita hamil sehingga kami dapat mendidik mereka dan melindungi mereka juga. Sebagai bagian dari perawatan holistik kami, mari kita intip tentang bagaimana aborsi atau keguguran memengaruhi wanita hamil dan apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi kasus-kasus ini.


LANDASAN TEORI MEDIS


1. Definisi
Abortus imminen adalah sebuah perdarahan bercak yang memperilihatkan ancaman terhadap kelangsungan kehamilan. Dalam keadaan seperti ini kehamilan masih mungkin bisa lanjut atau dipertahankan (Syaifudin.Bari Abdul,2000)

Abortus imminen yaitu perdarahan pervaginam pada kehamilan yang kurang dari 20 minggu, tanpa disertai dengan tanda-tanda dilatasi serviks yang juga meningkat (Mansjoer, Arif M, 1999)

Abortus imminen adalah pengeluaran sekret pervagina yang muncul pada paruh pertama kehamilan (William Obstetri, 1990)



2. Klasifikasi

Abortus dibagi menjadi dua yaitu :

1. Abortus Spontan :

Yaitu abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis untuk mengosongkan uterus, maka abortus tersebut dinamai abortus spontan. Kata lain yang luas digunakan adalah keguguran (miscarriage) (Cunningham, 2000).

Keguguran adalah setiap kehamilan yang berakhir secara spontan sebelum janin dapat bertahan. Sebuah keguguran secara medis disebut sebagai aborsi spontan. WHO mendefenisikan tidak dapat bertahan hidup sebagai embrio atau janin seberat 500 gram atau kurang, yang biasanya sesuai dengan usia janin (usia kehamilan) dari 20 hingga 22 minggu atau kurang. Aspek klinis abortus spontan dibagi menjadi lima subkelompok, yaitu:
  1. Threatened Miscarriage (Abortus Iminens)
    Adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada usia kehamilan 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan, dan beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis : nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis.
  2. Inevitable Miscarriage (Abortus Tidak Terhindarkan)
    Yaitu Abortus tidak terhindarkan (inevitable) ditandai oleh pecah ketuban yang nyata disertai pembukaan serviks.
  3. Incomplete Miscarriage (Abortus tidak lengkap)
    Pada abortus yang terjadi sebelum usia gestasi 10 minggu, janin dan plasenta biasanya keluar bersama-sama, tetapi setelah waktu ini keluar secara terpisah. Apabila seluruh atau sebagian plasenta tertahan di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkomplet.
  4. Missed Abortion
    Hal ini didefenisikan sebagai retensi produk konsepsi yang telah meninggal in utero selama 8 minggu. Setelah janin meninggal, mungkin terjadi perdarahan pervaginam atau gejala lain yang mengisyaratkan abortus iminens, mungkin juga tidak. Uterus tampaknya tidak mengalami perubahan ukuran, tetapi perubahan-perubahan pada payudara biasanya kembali seperti semula.
  5. Recurrent Miscarriage atau Abortus Habitualis (Abortus Berulang)
    Keadaan ini didefinisikan menurut berbagai kriteria jumlah dan urutan, tetapi definisi yang paling luas diterima adalah abortus spontan yang terjadi berturut-turut selama tiga kali atau lebih (Cunningham, 2000).

2. Abortus Provokatus (abortus yang sengaja dibuat) :

Yaitu menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup di luar kandungan apabila kehamilan belum mencapai 100 gram, walaupun terdapat kasus bayi dibawah 100 gram bisa hidup di luar tubuh. Abortus ini dibagi 2 yaitu :
  1. Abortus medisinalis
    Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
  2. Abortus kriminalis
    Yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.


3. Etiologi

Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu :
  1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah :
    1. Kelainan kromosom, terutama trimosoma dan monosoma X
    2. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna
    3. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan temabakau dan alkohol
  2. kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun
  3. faktor maternal seperti pneumonia, typus, anemia berat, keracunan dan toksoplasmosis
  4. kelainan traktus genetalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua), retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus
  5. kelainan endokrin (hypertiroid, diabetes melitus, kekurangan hormon progesteron)
  6. trauma, gangguan nutrisi, stress psikologis


4. Patofisiologi

Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.

Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum), janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus. (Mansjoer Arif M. 1999)

Laporan Pendahuluan dan Askep Abortus Imminens pdf, doc
patofisiologi abortus imminens


5. Manifestasi Klinik

Tanda dan gejala secara umum pada abortus imminen adalah :
  1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu
  2. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat
  3. Perdarahan pervagina mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi
  4. Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus
  5. Pemeriksaan ginekologi :
    1. Inspeksi Vulva :perdarahan pervagina ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva
    2. Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium
    3. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri
    4. Hasil pemeriksaan kehamilan masih positif


6. Komplikasi

Komplikasi yang mungkin timbul (Budiyanto dkk, 1997) adalah:
  1. Perdarahan akibat luka pada jalan lahir, atonia uteri, sisa jaringan tertinggal, diatesa hemoragik dan lain-lain. Perdarahan dapat timbul segera pasca tindakan, dapat pula timbul lama setelah tindakan.
  2. Syok akibat refleks vasovagal atau nerogenik. Komplikasi ini dapat mengakibatkan kematian yang mendadak. Diagnosis ini ditegakkan bila setelah seluruh pemeriksaan dilakukan tanpa membawa hasil. Harus diingat kemungkinan adanya emboli cairan amnion, sehingga pemeriksaan histologik harus dilakukan dengan teliti.
  3. Emboli udara dapat terjadi pada teknik penyemprotan cairan ke dalam uterus. Hal ini terjadi karena pada waktu penyemprotan, selain cairan juga gelembung udara masuk ke dalam uterus, sedangkan pada saat yang sama sistem vena di endometrium dalam keadaan terbuka. Udara dalam jumlah kecil biasanya tidak menyebabkan kematian, sedangkan dalam jumlah 70-100 ml dilaporkan sudah dapat memastikan dengan segera.
  4. Inhibisi vagus, hampir selalu terjadi pada tindakan abortus yang dilakukan tanpa anestesi pada ibu dalam keadaan stress, gelisah, dan panik. Hal ini dapat terjadi akibat alat yang digunakan atau suntikan secara mendadak dengan cairan yang terlalu panas atau terlalu dingin.
  5. Keracunan obat/ zat abortivum, termasuk karena anestesia. Antiseptik lokal seperti KmnO4 pekat, AgNO3, K-Klorat, Jodium dan Sublimat dapat mengakibatkan cedera yang hebat atau kematian. Demikian pula obat-obatan seperti kina atau logam berat. Pemeriksaan adanya Met-Hb, pemeriksaan histologik dan toksikolgik sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis.
  6. Infeksi dan sepsis. Komplikasi ini tidak segera timbul pasca tindakan tetapi memerlukan waktu.
  7. Lain-lain seperti tersengat arus listrik saat melakukan abortus dengan menggunakan pengaliran arus listrik.


7. Pemeriksaan penunjang
  1. Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2 – 3 minggu setelah abortus
  2. Pemeriksaan doopler atau USG untuk menentukkan apakah janin masih hidup
  3. Pemeriksaan kadar fibrinogen pada missed abortion


8. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan abortus imminens menurut varney 2001 adalah :
  1. Trimester pertama dengan sedikit perdarahan, tanpa disertai kram :
    1. Tirah baring untuk meningkatkan aliran darah ke rahim dan mengurangi rangsangan mekanis, terutama bagi yang pernah abortus sampai perdarahan benar – benar berhenti
    2. Istirahatkan panggul (tidak berhubungan seksual, tidak melakukan irigasi atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina)
    3. Tidak melakukan aktifitas seksual yang menimbulkan orgasme
  2. Pemeriksaan pada hari berikutnya di rumah sakit :
    1. Evaluasi tanda – tanda vital
    2. Pemeriksaan selanjutnya dengan spekulum : merupakan skrining vaginitis dan servisistis : observasi pembukaan serviks, tonjolan kantong ketuban, bekuan darah, atau bagian – bagian janin
    3. Pemeriksaan bimanual : ukuran uterus, dilatasi, nyeri tekan, effacement, serta kondisi ketuban
  3. Jika pemeriksaan, negatif dapat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukkan kelangsungan hidup janin, tanggal kelahiran, dan jika mungkin untuk menenangkan wanita
  4. Jika pemeriksaan fisik dan ultrasonografi negatif, tenangkan ibu, kaji ulang gejala bahaya dan pertahankan nilai normal
  5. Konsultasikan ke dokter jika terjadi perdarahan hebat, kram meningkat, atau hasil pemeriksaan fisik dan ultrasonogrfi menunjukkan hasil abnormal
Terapi yang diberikan menurut Masjoer (2001) adalah sedativa ringan seperti phenobarbital 3 x 30 mg dan menurut Manuaba (2007) diberikan terapi hormonal yaitu progesteron, misalnya premaston hingga perdarahan berhenti.



Landasan Teoritis Keperawatan


A. Pengkajian Data Dasar

1.  Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan penurunan sirkulasi
  • Gejala : keletihan, kelemahan, kehilangan produktivitas, malaise, intoleransi terhadap latihan rendah
  • Tanda : kelemahan otot dan penurunan sirkulasi, ataksia
2.  Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri
  • Gejala : perdarahan yang cukup hebat, nyeri (sedang/berat)
  • Tanda : wajah meringis, tampak sangat berhati – hati
3.  Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan
  • Gejala : masalah  financial, yang berhubungan dengan kondisi bingung terhadap keadaan, merasa cemas
  • Tanda : peka rangsangan (sensitif)
4.  Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
  • Gejala : pengeluaran cairan pervaginal
  • Tanda : tidak seimbangnya intake dan output cairan
5.  Resiko tinggi infeksi behubungan dengan perdarahan, kondisi vulva yang lembab
  • Gejala : terjadinya dishart keluar, adanya warna yang lebih gelap disertai bau, kurang kebersihan genitalia
  • Tanda : terjadinya infeksi, vulva lembab


B. Diagnosa Keperawatan
  1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan
  2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
  3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri
  4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
  5. Cemas s.d kurang pengetahuan


C. Intervensi Keperawatan

1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan

Tujuan :
Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.

Intervensi :
1) Kaji kondisi status hemodinamika
  • Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi
2) Ukur pengeluaran harian
  • Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal
3) Berikan sejumlah cairan pengganti harian
  • Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif
4) Evaluasi status hemodinamika
  • Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik

Atau versi tabel :
Intervensi KeperawatanRasional
Kaji kondisi status hemodinamika


Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi

Ukur pengeluaran harian



Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal

Berikan sejumlah cairan pengganti harian


Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif

Evaluasi status hemodinamika

Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik


2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi

Tujuan :
Klien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi

Intervensi :
1) Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
  • Rasional : Mungkin klien tidak mengalami per ubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk
2) Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan
  • Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi
3) Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
  • Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal
4) Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien
  • Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak sangat diperlukan
5) Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
  • Rasional : Menilai kondisi umum klien

Atau versi tabel :
Intervensi KeperawatanRasional
Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas



Mungkin klien tidak mengalami per ubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk

Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan

Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi

Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari

Mengistiratkan klilen secara optimal


Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien

Mengistiratkan klilen secara optimal


Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitasMenilai kondisi umum klien





3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s.d Kerusakan jaringan intrauteri

Tujuan :
Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami

Intervensi :
1) Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
  • Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi.
2) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
  • Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri
3) Kolaborasi pemberian analgetika
  • Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik
Atau versi tabel :

Intervensi Keperawatan Rasional
Kaji kondisi nyeri yang dialami klien


Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi.

Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya

Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri

Kolaborasi pemberian analgetika


Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik


4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab

Tujuan :
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan

Intervensi :
1) Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau
  • Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi
2) Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
  • Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar
3) Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
  • Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart
4) Lakukan perawatan vulva
  • Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.
5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi
  • Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi
6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se;ama masa perdarahan
  • Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.
Atau versi tabel :

Intervensi KeperawatanRasional
Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau



Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi

Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan

Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar

Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart


Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart

Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart

Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi


Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi

Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se;ama masa perdarahan



Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

5. Cemas s.d kurang pengetahuan


Tujuan :
Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat

Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit
  • Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas
2) Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
  • Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit
3) Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
  • Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien
4) Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
  • Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan
5) Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga
  • Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.
Atau versi tabel :
Nursing InterventionsRationale
Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit

Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas

Kaji derajat kecemasan yang dialami klien



Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit

Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan



Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien

Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama

Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan

Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga


Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.

Daftar Pustaka :

  • Didik Tjindarbunni, Duk.2001. pencegahan diagnostik dini dan pengobatan kanker. Yayasan Kanker Indonesia : Jakarta
  • Doengoes. M. 2001. Rencana perawatan Maternitas/ Bayi. EGC : Jakarta
  • Suzane, C, Smeltzer, Brenda, G Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. EGC : Jakarta

Demikianlah makala kita tentang Laporan Pendahuluan dan Askep Abortus Imminens pdf, doc ini, semoga makalah ini membantu teman-teman dalam membuat asuhan keperawatan atau askep untuk menyelesaikan tugas kuliah ataupun tugas dinas ataupun lainnya.

Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Laporan Pendahuluan dan Askep Abortus Imminens pdf, doc, semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami. Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

0 komentar