Reaksi Akut Selama Transfusi Darah

10:25 PM

Reaksi Akut Selama Transfusi Darah


Reaksi Akut Selama Transfusi Darah

A. Komplikasi akut yang mengancam nyawa :

  1. Hemolitik akut
  2. Infeksi bakteri kontaminan dari alat yang terkontaminasi
  3. TRALI ( Transfusion related acute-lung injury)
  4. TACO (transfusion associated circulatory overload)
  5. Reaksi alergi berat
  6. Anafilaksis

1. Reaksi Hemolitik Akut
  • Inkompatibilitas sel darah merah donor dengan antibodi anti-A atau anti-B dan timbul gejala klinis berat (perdarahan, takikardia, hipotensi atauhipertensi)
  • Dapat terjadi setelah transfusi komponen kaya plasma (platelet atau FFP), mengandung antibodi anti-sel darah merah tinggi, anti A atau B
  • Terapi :
    1. STOP Transfusi
    2. Pertahankan akses vena
    3. Resusitasi dengan cairan kristaloid
    4. Bila hipotensi menetap, pertimbangkan pemberian inotropik
    5. Periksa sampel dan kultur darah dari kantong darah
    6. Laporkan ke bank darah
    7. Rujuk ke ruang perawatan akut (ICU) bila diperlukan

2. Infeksi Bakteri Kontaminan (2)
  • Terapi :
    1. Seperti pada hemolitik akut
    2. Antibiotik kombinasi sesuai bakteri yang diketahui, sesuai pola kuman lokal, atau kombinasi antibiotik untuk bakteri gram positif-negatif sbb :

3. Infeksi Bakteri Kontaminan
  • Reaksi akut, terjadi hiper atau hipotensi dengan cepat, kekakuan dan kolaps, gejala dan tanda bisa sama dengan reaksi hemolitik atau reaksi alergi akut yang lebih berat.
  • Sering pada platelet konsentrat (disimpan pada 22°C) daripada pada sel darah merah (disimpan pada 4-6°C)
  • Mikroorganisme tersering :
    1. Staphylococcus epidermidis
    2. Staphylococcus aureus
    3. Bacillus cereus
    4. Group B streptococci
    5. E. coli
    6. Pseudomonas species dan gram negatif lainnya

4. TRALI ( Transfusion Related Acute-Lung Injury)
  • Gejala :
    1. 6 jam setelah transfusi timbul sesak nafas dan batuk non produktif
    2. Hipotensi dan hilangnya volume sirkulasi, dapat timbul demam atau tidak atau disertai menggigil
    3. Monositopenia atau neutropenia
    4. Infiltrat nodular bilateral (batwing), sesuai gambaran ARDS  pada rontgen thorax
  • Diagnosa Banding :
    • ALO karena gagal jantung ataupun ALO non kardiogenik

5. TRALI (Transfusion Related Acute-Lung Injury)
  • Terapi :
    1. Rawat ICU bila perlu
    2. Terapi sama seperti ARDS dengan berbagai penyebab
    3. Hindari DIURETIK
    4. Steroid  masih diragukan penggunaannya
    5. Melaporkan kasus TRALI di bank darah

6. TACO (Transfusion Associated Circulatory Overload )
  • ˜ fluid overload
  • Transfusi terlalu cepat --> gagal ventrikel kiri akut (acute left ventricular failure, LVF) --> dispneu, takipneu, batuk non produktif, peningkatan JVP, crackles pada paru basal, frothy pink sputum, hipertensi dan takikardia
  • Terapi :
    1. STOP transfusi
    2. Terapi medis standar (oksigen, diuretik)
  • Setiap transfusi satu kantong darah dapat diberikan diuretik (misalnya furosemide 20-40 mg) pada kondisi anemia (dimana normovolemik atau hipervolemik, kadang dengan gejala gangguan jantung)
  • Pembatasan transfusi satu kantong darah dalam 12 jam mengurangi resiko LVF

7. Reaksi Alergi Anafilaksis
  • Komplikasi jarang tetapi mengancam nyawa, pada saat awal transfusi
  • Disebabkan pemberian plasma terlalu cepat
  • Gejala berupa sesak, nyeri dada, nyeri abdomen dan mual. Klinis dapat terjadi hipotensi, bronkospasme, edema periorbital dan laryngeal, eritema, urtikaria dan konjungtivitis
  • Antibodi yang terlibat diantaranya IgE, IgG, atau IgA (anafilaksis lebih berat)
  • Bila diperlukan transfusi berulang, sebaiknya meminta bank darah untuk menyeleksi komponen darah lebih lanjut


B. Reaksi Alergi

1. Reaksi Alergi Ringan
  • Urtikaria dan/ atau gatal beberapa menit setelah transfusi dimulai terutama dengan komponen darah dengan jumlah plasma yang besar misalnya platelet konsentrat dan FFP.
  • Keluhan berkurang dengan penurunan kecepatan transfusi dan antihistamin (misalnya chlorpheniramine 10mg, i.v pelan atau i.m bila tidak ada trombositopenia)
  • Terapi :
    1. Bila keluhan tidak memberat setelah 30 menit, transfusi dapat dilanjutkan
    2. Chlorpheniramine harus diberikan bila terdapat riwayat reaksi alergi berulang

2. FNHTR (Febrile non Haemolytic Transfusion Reactions)
  • Demam (> 1,5°C diatas suhu normal) dapat disertai menggigil atau tidak enak seluruh badan yang terjadi saat transfusi (sel darah merah atau platelet), akhir transfusi atau > 2 jam setelahnya
  • 1-2% resipien, terutama transfusi bermacam-macam produk darah dan sebelumnya hamil
  • Terapi :
    1. Menghentikan atau menurunkan kecepatan transfusi
    2. Antipiretik (misalnya parasetamol, hindari Aspirin)
  • Tidak mengancam jiwa, tetapi mengganggu, tanda awal reaksi akut yang berat


C. Reaksi Transfusi Akut

Komplikasi transfusi tipe lambat :
  • DHTR (Delayed transfusion reaction)
  • TA-GvHD (Transfusion associate graft-versus-host disease)
  • PTP (post transfusion purpura)
  • Iron overload
  • Transmisi penyakit : HIV, Hep B, Hep C, Malaria, 
  • Syphilis, Chagas disease


1. DHTR (Delayed Haemolytic Transfusion Reaction)
  • Reaksi hemolitik > 24 jam setelah transfusi, pada penderita yang pernah terpapar antigen sel darah merah transfusi sebelumnya atau kehamilan
  • Tersering karena antibodi Kidd (Jk) dan Rh
  • Terjadi 1-14 hari setelah transfusi disertai penurunan Hb, peningkatan Hb tidak signifikan, jaundice, demam, hemoglobinuria dan gagal ginjal jarang terjadi
  • Terapi :
    1. Pemeriksaan kadar Hb, hapusan darah, LDH, antiglobulin langsung, monitor ketat fungsi renal, bilirubin serum, haptoglobin dan urinalisis (mencari hemoglobinuria)
    2. Pengulangan skrining golongan darah dan antibodi, uji crossmatch ulang contoh darah pre- dan post-transfusi
    3. Dilaporkan sebagai SABRE

2. TA-GvHD (Transfusion Associate Graft-versus-Host Disease)
  • Komplikasi serius yang jarang terjadi
  • Akibat dari proliferasi dan grafting limfosit donor --> merusak sel resipien yang membawa antigen HLA.
  • Organ yang terlibat yaitu kulit, gastrointestinal, liver, limpa, dan sumsum tulang menyebabkan demam, ruam kulit, diare dan hepatitis dimana timbul 1-2 minggu setelah transfusi dan seringkali fatal
  • Resiko tinggi pada kondisi immunocompromised serta resipien transfusi dari keturunannya (karena pertukaran haplotipe HLA)
  • Penderita dengan resiko terjadi GvHD sebaiknya hanya menerima komponen darah dengan inaktivasi limfosit donor sebagai pencegahan.

3. PTP (Post-transfusion Purpura)
  • Komplikasi sel darah merah atau platelet (trombosit) yang jarang tetapi dapat mengancam nyawa, sering pada wanita, disebabkan alloantibodi spesifik platelet.
  • Platelet sangat rendah dan perdarahan yang terjadi 5-9 hari setelah transfusi
  • Terapi :
    1. Imunoglobulin intravena dosis tinggi menunjukkan perbaikan pada 85% kasus, peningkatan platelet dengan cepat
    2. Steroid dan plasma exchange dapat diberikan pada beberapa kasus
    3. Transfusi trombosit tidak dapat meningkatkan kadar trombosit, tetapi bila diberikan dalam dosis besar bertujuan mengontrol perdarahan berat pada kasus akut

4. Iron Overload
  • Sering pada Thallasemia beta, tetapi juga pada penderita sickle cell disease dan kondisi yang tergantung transfusi lainnya.
  • Satu kantong sel darah merah mengandung 250 mg besi, efek toksik sering timbul setelah transfusi 10-50 kantong darah.
  • Diperlukan terapi iron chelation jangka panjang mulai dari usia 2-3 tahun dapat mencegah kematian (gangguan jantung, sirosis dan diabetes) pada dekade tiga dan empat hingga 90%
  • Iron chelation : Desferioxamine 30-50mg infus pelan minimal lima kali/ minggu



Demikianlah  artikel dari www.perawatkitasatu.com yang berjudul Reaksi Akut Selama Transfusi Darah. Semoga apa yang telah kami sajikan dan berikan diatas tersebut dapat bermanfaat dan berguna bagi teman-teman semuanya.

Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Reaksi Akut Selama Transfusi Darah, semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami. Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

0 komentar