Askep Pada Pasien Acute Coronary Syndrome (ACS) Part 2

9:59 AM

Askep Pada Pasien Acute Coronary Syndrome (ACS) Part 2


Halo semuanya, telah kami siapkan untuk teman-teman semua sambungan part ke 1 mengenai Asuhan Keperawatan ACS, dimana di bagian par ke 2 ini kita akan membahas mengenai Intervensi Keperawatan dan juga rasionalnya.

Askep Pada Pasien Acute Coronary Syndrome (ACS) Part 2

Diagnosa Keperawatan

Dibawah ini adalah diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan Acute Coronary Syndrome (ACS)
  1. Nyeri akut berhubungan dengan penumpukan asam laktat di otot jantung
  2. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan beban kerja jantung meningkat
  3. Gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan oedem paru
  4. Resiko tinggi penurunan curah jantung b/d penurunan kontraktilitas jantung
  5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia, mual muntah
  6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
  7. Anxietas berhubungan dengan respon penyakit yang ditandai dengan penurunan tekanan darah dan nyeri
  8. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kondisi penyakit yang progresif
  9. Resiko tinggi gangguan perufsi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan suplay O2 ke jaringan tubuh
  10. Resiko tinggi ketidak patuhan pengobatan berhubungan dengan kondisi penyakit yang progresif
  11. Resiko tinggi kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan perfusi ginjal; peningkatan natrium/retensi air; peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma.


Intervensi Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan penumpukan asam laktat di otot jantung

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, maka pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang
Kriteria Hasil :
  • melaporkan  penurunan frekuensi angina dan menunjukan kestabilan tanda-tanda vital klien.
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Instruksikan klien untuk memberi tahu perawat segera ketika nyeri dada terjadi.






nyeri dan penurunan curah jantung dapat merangsang sistem saraf simpatis untuk melepaskan norepinephrine berlebihan yang akan menigkatkan agregasi trombosit dan pelepasan tromboksa A2. Vasokontriktor kuat ini akan menyebabkan kejang arteri coroner yang dapat memperburuk serangan angina.

Kaji dan dokumentasikan respon klien dan efek obat.


untuk memberikan informasi mengenai perkembangan penyakit dan sebagai evaluasi efektivitas intervensi.

Identifikasi faktor pencetus jika ada, identifikasi frekuensi, durasi, intensitas dan lokasi rasa sakit.


untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya perkembangan angina stabil menjadi angina tidak stabil.

Amati untuk gejala terkait dyspnea, mual, muntah, pusing, jantung berdebar, dan keinginan untuk buang air kecil.




penurunan curah jantung yang dapat terjadi selama episode iskemik miokard dapat merangsang sistem saraf simpatis dan parasimpatis dan menyebabkan sensasi kabur yang kadang tidak disadari klien sebagai salah satu efek angina.

Evaluasi laporan nyeri pada rahang, leher, bahu, lengan, atau tangan (biasanya sisi kiri).


nyeri jantung atau atau biasa disebut sebagai nyeri dada dapat menyebar, nyeri biasanya lebih dangkal dan diatur oleh sumsum tulang belakang.

Istirahatkan klien selama episode angina terjadi.


mengurangi kebutuhan oksigen miokard untuk meminimalkan risiko cddera jaringan dan nekrosis.

Tinggikan kepala tempat tidur jika klien sesak napas.

memfasilitasi pertukaran gas untuk menurunkan hipoksia dan sesak napas.

Monitor ritme detak jantung.




klien dengan angina tidak stabil memiliki peningkatan resiko akut terhadap ancaman disritmia yang terjadi ketika tubuh merespon perubahan iskemik.

Pantau tanda-tanda vital klien setiap 5 menit selama angina awal menyerang.





kemungkinan terjadi peningkatan tekanan darah karena stimulasi simpatis, namun hal tersebut hanya terjadi diawal hingga kemudian menurun dan curah jantung terganggu. Takikardia juga dapat terjadi untuk merespon rangsangan simpatis.

Selalu berada disebelah klien ketika klien mengalami nyeri yang bermunculan bersama rasa kecemasan.

kecemasan melepaskan katekolamin yang meningkatkan beban kerja miokard dan dapat meningkatkan nyeri iskemik.

Berikan suasana tenang, nyaman, dan batasi pengunjung jika perlu.



kehadiran perawat dapat mengurangi perasaan takut dan ketidakberdayaan. Stress mental dan emosional dapat meningkatkan beban kerja miokard.

Istirahatkan klien selama 1 jam setelah makan.   



Pencernaan berhubungan dengan penurunsn kerja miokard dan dapat mengurangi serangan resiko angina.     


2. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan beban kerja jantung meningkat

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, maka pasien melaporkan pola nafasnya kembali normal atau tidak sesak
Kriteria Hasil :
  • Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dg mudah, tidakada pursed lips)
  • Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
  • Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi



Posisi ventilasi yang maksimal akan meningkatkan pemasukan udara kedalam paru-paru pasien

Lakukan fisioterapi dada jika perlu


jika pasien terdapat sekret, maka fisioterapi dapat membuatu untuk memperlancar pernafasan

Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan


suara nafas tambahan mengindikasikan adanya sumbatan jalan nafas didalam paru paru, sehingga intervensi keperawatan lanjutan perlu dilakukan

Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab

pemberian kassa lembab terutama di selang oksigen dapat membantu meningkatkan sirkulasi O2 masuk kedalma  paru pasuen

Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.

intake yang tidak seimbang seperti kelebihan akan meningkatkan beban kerja jantung

Monitor respirasi dan status O2


status respirasi dan O2 dengan SPO2 sangat penting dalam melihat saturasi O2 di perifer

Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea


adanya sekret dapat menghambat pola nafas pasien

Pertahankan jalan nafas yang paten



jalan nafas yang paten dan bersih ana mencegeh taerjadinya obstruksi saluran nafas yang mengganggu pernafasan

Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi




tanda-tanda hipoventilasi seperti sianosis, akral dingin, penurunan suhu tubuh dan lain-lain memperlukan tindakan intervensi keperawatan lainnya segera

Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi kecemasan akan meningkatkan konsumsi O2 pasien

Monitor  vital sign



pemantauapn status tanda-tanda vital penting dan harus dilakukan secara teratur sepert setiap 4 jam sekali atau sesuai kebutuhan

Informasikan pada pasien dan keluarga tentang tehnik relaksasi untuk memperbaiki pola nafas.

teknik relaksasi sangat penting untuk menghemat konsumsi O2 tubuh
Monitor pola nafas


pola nafas yang abnormal seperti cuping hidung atau gerakan otot tambahan perlu dilakukan intervensi lanjutan


3. Gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan oedem paru

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, diharapakn pasien tidak mengalami gangguan pertukaran gas
Kriteria Hasil :
  • TTV dalam rentang normal
  • Hasil AGD dalam rentang normal
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernapas


Manifestasi distress pernapasan tergantung pada derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum

Pantau saturasi O2 dengan oksimetri nadi


Mengetahui saturasi O2 pasien serta menilai intervnsi yang tepat untuk pasien selanjutnya

Pantau hasil gas darah



Dengan mengetahui GDS pasien, maka dapat membatu perawat untuk melakukan intervensi selanjutnya

Pantau kadar elektrolit



Dengan mengetahui kadar elektrolit pasien, maka dapat membatu perawat untuk melakukan intervensi selanjutnya

Pantau status mental px



Perubahan status mental menandakan adanya penurunan gas darah pasien sehingga, perawat harus melakukan intervensi selanjutnya

Observasi terhadap sianosis, terutama membran mukosa mulut

Sianosis berarti penurunan O2 didalam darah terutama dibagian perifer


4. Resiko Tinggi Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan kontraktilitas jantung

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, maka curah jantung kembali normal
Kriteria Hasil :
  • TD normal, 100/80 -140/90
  • Nadi kuat, reguler
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Pantau TD, HR dan DN, periksa dalam keadaan baring, duduk dan berdiri (bila memungkinkan)






Hipotensi dapat terjadi sebagai akibat dari disfungsi ventrikel, hipoperfusi miokard dan rangsang vagal. Sebaliknya, hipertensi juga banyak terjadi yang mungkin berhubungan dengan nyeri, cemas, peningkatan katekolamin dan atau masalah vaskuler sebelumnya. Hipotensi ortostatik berhubungan dengan komplikasi GJK.

Auskultasi adanya S3, S4 dan adanya murmur.


Penurunanan curah jantung ditunjukkan oleh denyut nadi yang lemah dan HR yang meningkat.

Auskultasi bunyi napas.









S3 dihubungkan dengan GJK, regurgitasi mitral, peningkatan kerja ventrikel kiri yang disertai infark yang berat. S4 mungkin berhubungan dengan iskemia miokardia, kekakuan ventrikel dan hipertensi. Murmur menunjukkan gangguan aliran darah normal dalam jantung seperti pada kelainan katup, kerusakan septum atau vibrasi otot papilar. Krekels menunjukkan kongesti paru yang mungkin terjadi karena penurunan fungsi miokard.

Berikan makanan dalam porsi kecil dan mudah dikunyah.



Makan dalam volume yang besar dapat meningkatkan kerja miokard dan memicu rangsang vagal yang mengakibatkan terjadinya bradikardia.

Kolaborasi pemberian oksigen sesuai kebutuhan klien

Meningkatkan suplai oksigen untuk kebutuhan miokard dan menurunkan iskemia.

Pertahankan patensi IV-lines/heparin-lok sesuai indikasi.


Jalur IV yang paten penting untuk pemberian obat darurat bila terjadi disritmia atau nyeri dada berulang.

Bantu pemasangan/pertahankan paten-si pacu jantung bila digunakan.



Pacu jantung mungkin merupakan tindakan dukungan sementara selama fase akut atau mungkin diperlukan secara permanen pada infark luas/kerusakan sistem konduksi.


5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia, mual muntah

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, maka kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi secara adekuat
Kriteria Hasil :
  • Antropometri: berat badan tidak turun (stabil), tinggi badan, lingkar lengan
  • Biokimia: albumin normal dewasa (3,5-5,0) g/dl
  • Hb normal (laki-laki 13,5-18 g/dl, perempuan 12-16 g/dl)
  • Klinis: tidak tampak kurus, terdapat lipatan lemak, rambut tidak jarang dan merah
  • Diet: klien menghabiskan porsi makannya dan nafsu makan bertambah
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien

Mengetahui kekurangan  nutrisi klien.

Jelaskan pentingnya makanan bagi proses penyembuhan.


Dengan pengetahuan yang baik tentang nutrisi akan memotivasi untuk meningkatkan  pemenuhan nutrisi.

Mencatat  intake dan output makanan klien.


Mengetahui perkembangan pemenuhan nutrisi klien.

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk membantu memilih makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi selama sakit

Ahli gizi adalah spesialisasi dalam ilmu gizi yang membantu klien memilih makanan sesuai dengan keadaan sakitnya, usia, tinggi, berat badannya.

Manganjurkn  makan sedikit- sedikit tapi sering.


Dengan sedikit tapi sering mengurangi penekanan yang berlebihan pada lambung.


6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, maka pasien dapat melakuak aktivitas secara normal atau bertahap baik mandiri atau dengan sedikit bantuan
Kriteria Hasil :
  • Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
  • Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
  • Keseimbangan aktivitas dan istirahat
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Pantau HR, irama, dan perubahan TD sebelum, selama dan sesudah aktivitas sesuai indikasi.

Menentukan respon klien terhadap aktivitas.


Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas


Menurunkan kerja miokard/konsumsi oksigen, menurunkan risiko komplikasi.

Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdominal.




Manuver Valsava seperti menahan napas, menunduk, batuk keras dan mengedan dapat mengakibatkan bradikardia, penurunan curah jantung yang kemudian disusul dengan takikardia dan peningkatan tekanan darah.

Batasi pengunjung sesuai dengan keadaan klinis klien.


Keterlibatan dalam pembicaraan panjang dapat melelahkan klien tetapi kunjungan orang penting dalam suasana tenang bersifat terapeutik.

Bantu aktivitas sesuai dengan keadaan klien dan jelaskan pola peningkatan aktivitas bertahap.

Mencegah aktivitas berlebihan; sesuai dengan kemampuan kerja jantung.

Kolaborasi pelaksanaan program rehabilitasi pasca serangan IMA.

Menggalang kerjasama tim kesehatan dalam proses penyembuhan klien.


7. Anxietas berhubungan dengan respon penyakit yang ditandai dengan penurunan tekanan darah dan nyeri

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, maka pasien menunjukkan penuruanan kecemasan dari ekspresi wajah serta pengungkapan penurunan cemas dari pasien
Kriteria Hasil :
  • TTV dalam batas normal
  • ekspresi wajah tanpak rileks
  • status efeks normal
  • pasien menyatakan penuruanan ansietasnya
  • pasien menyatakaan mengeri tentang penyakitnya dan pengobatan dirinya
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Pantau respon verbal dan non verbal yang menunjukkan kecemasan klien.




Klien mungkin tidak menunjukkan keluhan secara langsung tetapi kecemasan dapat dinilai dari perilaku verbal dan non verbal yang dapat menunjukkan adanya kegelisahan, kemarahan, penolakan dan sebagainya.

Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan marah, cemas/takut terhadap situasi krisis yang dialaminya.



Respon klien terhadap situasi IMA bervariasi, dapat berupa cemas/takut terhadap ancaman kematian, cemas terhadap ancaman kehilangan pekerjaan, perubahan peran sosial dan sebagainya.

Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.




Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.

Kolaborasi pemberian agen terapeutik anti cemas/sedativa sesuai indikasi (Diazepam/Valium, Flurazepam/Dal-mane, Lorazepam/Ativan).

Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.




8. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kondisi penyakit yang progresif

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, maka pasien menyatakan mengerti dan memhami pengobatan terhadap penyakit ACS dirinya
Kriteria Hasil :
  • Pasien dapat mengungkapkan kembali tentang penyakit dirinya
  • pasien dapat mengulangi lagi proses pengobatan dirinya
  • ekspresi wajah tampak senang
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Kaji tingkat pengetahuan klien/orang terdekat dan kemampuan/kesiapan  belajar klien.

Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien.

Berikan informasi dalam berbagai variasi proses pembelajaran. (Tanya jawab, leaflet instruksi ringkas, aktivitas kelompok)

Meningkatkan penyerapan materi pembelajaran.



Berikan penekanan penjelasan tentang faktor risiko, pembatasan diet/aktivitas, obat dan gejala yang memerlukan perhatian cepat/darurat.

Memberikan informasi terlalu luas tidak lebih bermanfaat daripada penjelasan ringkas dengan penekanan pada hal-hal penting yang signifikan bagi kesehatan klien.

Peringatkan untuk menghindari aktivitas isometrik, manuver Valsava dan aktivitas yang memerlukan tangan diposisikan di atas kepala.

Aktivitas ini sangat meningkatkan beban kerja miokard dan meningkatkan kebutuhan oksigen serta dapat merugikan kontraktilitas yang dapat memicu serangan ulang.

Jelaskan program peningkatan aktivitas bertahap (Contoh: duduk, berdiri, jalan, kerja ringan, kerja sedang)



Meningkatkan aktivitas secara bertahap meningkatkan kekuatan dan mencegah aktivitas yang berlebihan. Di samping itu juga dapat meningkatkan sirkulasi kolateral dan memungkinkan kembalinya pola hidup normal.


9. Resiko tinggi gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan suplay O2 ke jaringan tubuh

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, maka perfusi jaringan pasien membaik
Kriteria Hasil :
  • Terpeliharanya dan meningkatnya tingkat kesadaran
  • Menampakkan stabilitas tanda vital
  • tidak ada tanda-tanda sianosis
  • akral hangat
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Pantau perubahan kesadaran/keadaan mental yang tiba-tiba seperti bingung, letargi, gelisah, syok.

Perfusi serebral sangat dipengaruhi oleh curah jantung di samping kadar elektrolit dan variasi asam basa, hipoksia atau emboli sistemik.

Pantau tanda-tanda sianosis, kulit dingin/lembab dan catat kekuatan nadi perifer.



Penurunan curah jantung menyebabkan vasokonstriksi sistemik yang dibuktikan oleh penurunan perfusi perifer (kulit) dan penurunan denyut nadi.

Pantau fungsi pernapasan (frekuensi, kedalaman, kerja otot aksesori, bunyi napas)



Kegagalan pompa jantung dapat menimbulkan distres pernapasan. Di samping itu dispnea tiba-tiba atau berlanjut menunjukkan komplokasi tromboemboli paru.

Pantau fungsi gastrointestinal (anorksia, penurunan bising usus, mual-muntah, distensi abdomen dan konstipasi)

Penurunan sirkulasi ke mesentrium dapat menimbulkan disfungsi gastrointestinal


Pantau asupan caiaran dan haluaran urine, catat berat jenis.




Asupan cairan yang tidak adekuat dapat menurunkan volume sirkulasi yang berdampak negatif terhadap perfusi dan fungsi ginjal dan organ lainnya. BJ urine merupakan indikator status hidrsi dan fungsi ginjal.

Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (gas darah, BUN, kretinin, elektrolit)

Penting sebagai indikator perfusi/fungsi organ.


Kolaborasi pemberian agen terapeutik yang diperlukan:
  • Hepari / Natrium Warfarin (Couma-din)
  • Simetidin (Tagamet), Ranitidin (Zantac), Antasida.
  • Trombolitik (t-PA, Streptokinase)







  • Heparin dosis rendah mungkin diberikan mungkin diberikan secara profilaksis pada klien yang berisiko tinggi seperti fibrilasi atrial, kegemukan, anerisma ventrikel atau riwayat tromboplebitis. Coumadin merupakan antikoagulan jangka panjang.
  • Menurunkan/menetralkan asam lambung, mencegah ketidaknyamanan akibat iritasi gaster khususnya karena adanya penurunan sirkulasi mukosa.
  • Pada infark luas atau IM baru, trombolitik merupakan pilihan utama (dalam 6 jam pertama serangan IMA) untuk memecahkan bekuan dan memperbaiki perfusi miokard.

10. Resiko tinggi ketidak patuhan pengobatan berhubungan dengan kondisi penyakit yang progresif

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, maka pasien mengatakan paham dan mengikuti program pengobatan
Kriteria Hasil :
  • mengungkapkan niat untuk memenuhi pengobatan yang dianjurkan setelah pulang, mengidentifikasi sumber-sumber pendukung untuk membantu kepatuhan dan menyebutkan potensial komplikasi ketidakpatuhan.
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Identifikasi faktor  yang dapat memprediksi ketidakpatuhan

secara tebuka memaparkan kendala terhadap kepatuhan dapat mengurangi ketidakpatuhan

Tekankan pentingnya mentaati program pengobatan dan memberitahu tenaga kesehatan bila tak mampu melakukanya

memberikan motivasi dalam program pengobatan yang sering untuk mentaati rutinitas yang kadang-kadang kompleks

Tekankan bahwa peningkatan tekanan intraokular bisa saja tanpa gejala

tidak adanya gejala sering mendorong ketidakpatuhan

Diskusikan efek kehilangan penglihatan atau kebutaan klien pada anggota keluarga dan orang terdekat

menekankan dampak potensial kehilangan penglihatan pada orang pendukung klien dan mendorong kepatuhan pasien

Libatkan anggota keluarga dan orang terdekat dalam sesi penyuluhan, dengan tepat

anggota keluarga dan orang terdekat dapat mengerti ganguan dan program pengobatan sehingga membantu klien mencapai kepatuhan

Diskusikan strategi untuk memperbaiki kepatuhan program pengobatan

melibatkan klien dalam perencanaan program pengobatan dan membantu menjamin kepatuhan

Tekankan bahwa akhirnya semua adalah pilihan dan tanggung jawab klien untuk mentaati rencana pengobatan

menekankan kemampuan pengambilan keputusan dan tanggung jawab klien dapat menguatkan perasaan control dan penentuan diri


11. Resiko tinggi kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan perfusi ginjal; peningkatan natrium/retensi air; peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma.

Tujuan :
  • Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, maka tanda-tanda kelebihan volume cairan tidak terjadi dan BB pasien dalam keadaan stabil
Kriteria Hasil :
  • tidak terjadi oedema pada ekstermitas
  • BB dalam batas normal / tidak terjadi peningkatan signifikan
  • intake output cairan dalam batas normal
  • haluran urin dalam batas normal
  • pasien mengungkapkan tidak terjadi hambatan dalam aktivitas
Intervensi :

Intervensi Keperawatan Rasional
Auskultasi bunyi napas terhadap adanya krekels.

Indikasi terjadinya edema paru sekunder akibat dekompensasi jantung.

Pantau adanya DVJ dan edema anasarka


Dicurigai adanya GJK atau kelebihan volume cairan (overhidrasi)

Hitung keseimbangan cairan dan timbang berat badan setiap hari bila tidak kontraindikasi.





Penurunan  curah jantung mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi natrium/air dan penurunan haluaran urine. Keseimbangan cairan positif yang ditunjang gejala lain (peningkatan BB yang tiba-tiba) menunjukkan kelebihan volume cairan/gagal jantung.

Pertahankan asupan cairan total 2000 ml/24 jam dalam batas toleransi kardiovaskuler.


Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa tetapi tetap disesuaikan dengan adanya dekompensasi jantung.

Kolaborasi pemberian diet rendah natrium.


Natrium mengakibatkan retensi cairan sehingga harus dibatasi.

Kolaborasi pemberian diuretik sesuia indikasi (Furosemid/Lasix, Hidralazin/ Apresoline, Spironlakton/ Hidronolak-ton/Aldactone)

Diuretik mungkin diperlukan untuk mengoreksi kelebihan volume cairan.


Pantau kadar kalium sesuai indikasi.


Hipokalemia dapat terjadi pada terapi diuretik yang juga meningkatkan pengeluaran kalium.


Sumber : Perawat Kita Satu


Demikianlah artikel singkat kami mengenia Asuhan Keperawatan (Askep) Pada Pasien Acute Coronary Syndrome (ACS) Part 2, Semoga bermanfaat untuk teman-teman semua.

Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Askep Pada Pasien Acute Coronary Syndrome (ACS) Part 2, semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami. Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

0 komentar