Pemeriksaan Otak : Penilaian Saraf Neurologis

Pemeriksaan otak: Penilaian Saraf Neurologis


Kapanpun Anda pergi ke tempat baru, apartemen atau rumah mungkin apa yang biasanya Anda lakukan? Anda memeriksa kamar, dapur, soket, ruang kenyamanan dan semua hal lain yang terlibat di sekitar rumah. Bagaimana dengan saat Anda membeli gadget baru seperti tablet? Anda memeriksa layarnya untuk kemungkinan goresan, Anda memeriksa pengisi daya apakah berfungsi dengan baik, Anda memeriksa aplikasi apakah semuanya berfungsi, Anda menguji semuanya untuk melihat apakah semuanya berfungsi sebagaimana mestinya.

Dalam kehidupan seperti ini yang kita jalani, sangat umum bagi orang untuk memeriksa hal-hal materi dan fungsi mereka dari waktu ke waktu, untuk memeriksa apakah mereka masih baik-baik saja, jika mereka bekerja dengan persyaratan normal dan jika ada beberapa bagian yang rusak dan perlu diperbaiki. Sama juga dengan bagian tubuh yang berbeda, yang perlu diperiksa dari waktu ke waktu untuk status kesehatan.

Pemeriksaan otak: Penilaian Saraf Neurologis, pemeriksaan status mental, pemeriksaan 12 saraf kranial, pemeriksaan fungsi motorik
pemerisaan status mental, motorik, dan 12 saraf kranial

Penilaian neurologis

Otak adalah salah satu organ tubuh paling penting, sebenarnya, sangat penting bagi keberadaan setiap orang. Ini memungkinkan kita untuk berpikir dan mengendalikan semua hal yang kita lakukan, mulai dari bernapas hingga melakukan kegiatan favorit kita. Ini menyimpan ingatan kita dan memungkinkan kita untuk merasakan emosi, dan banyak lagi. Tanpa itu, kita bahkan bisa bernafas sendiri.

Penilaian neurologis didefinisikan sebagai serangkaian pertanyaan dan tes sederhana yang memberikan informasi penting tentang sistem saraf. Ini adalah penilaian neuron sensorik dan respon motorik, terutama refleks, untuk menentukan apakah sistem saraf terganggu.

Memantau status neurologis tidak hanya berlaku untuk pasien yang dirawat di ICU, tetapi juga untuk pasien yang tidak memiliki diagnosis neurologis seperti mereka dengan kasus yang dapat menyebabkan perubahan neurologis (yaitu, pasien pasca operasi yang dapat mengalami defisit neurologis karena kehilangan darah).

Yang menyeluruh mungkin termasuk menilai status mental, saraf kranial, fungsi motorik dan sensorik, respon pupil, refleks, serebelum, dan tanda-tanda vital. Biasanya, bagaimanapun, Anda mungkin tidak perlu melakukan pemeriksaan serebelar dan sensorik, kecuali Anda ditugaskan di unit neuro.


Status mental

Untuk menilai status mental pasien, Anda mungkin perlu mengevaluasi tingkat kesadaran, orientasi, dan memori pasien. Anda mungkin memerlukan Skala Glasgowcoma (GCS) untuk menilai LOC pasien karena skala ini adalah yang pertama kali berubah jika terjadi cedera neurologis. Tanggapan pasien dibagi menjadi : membuka mata (skor sempurna adalah 4), respons verbal (5) dan respons motorik (6). Skor sempurna adalah 15, skor di bawah 9 menunjukkan cedera otak dan skor GCS 3 menunjukkan kematian otak.

Eye (respon membuka mata) :

  • (4) : spontan
  • (3) : dengan rangsang suara (perintah membuka mata sedang).
  • (2) : dengan rangsang nyeri (seperti menekan kuku-kuku jari, menekan prosesus xipodeus)
  • (1) : No berespin

Verbal (respon verbal) :

  • (5) : orientasi keadaan lingkungan baik
  • (4) : bingung, bicara kacau ( sering bertanya berulang-ulang) disorientasi waktu serta tempat .
  • (3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, hanya beberapa kata)
  • (2) : suara tidak ada arti (suara mengerang)
  • (1) : No respon

Motor (respon motorik) :

  • (6) : mengikuti perintah 
  • (5) : melokalisir nyeri (menjangkau rangsangan dan menjuhkannya)
  • (4) : Menghindar (merupakan gerakan fleksi tubuh yang dirangsang nyeri, pasien langsung menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi rangsang nyeri)
  • (3) : flexi abnormal (kedua atau satu tangan fleksi kearah dada dan kaki extensi tampak ketika rangsang nyeri).
  • (2) : extensi abnormal (satu atau kedua tangan ekstensi di sisi tubuh, serta jari-jari mengepal dan kedua kaki extensi ketika rangsang nyeri).
  • (1) : tidak ada respon

Nilai GCS pada pasien trauma kapitis :

  1. GCS : 14 – 15 = CKR (cidera kepala ringan)
  2. GCS : 9 – 13 = CKS (cidera kepala sedang)
  3. GCS : 3 – 8 = CKB (cidera kepala berat)


Untuk orientasi, Anda dapat mengajukan pertanyaan seperti di mana dia berada, tanggal dan jam berapa dan namanya. Ketika Anda menilai orientasi pasien Anda, Anda juga harus memperhatikan pembicaraannya. Pengkajian memori, di sisi lain, melibatkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menilai memori langsung (mengulangi angka atau kata-kata yang baru saja Anda sebutkan), memori jangka pendek (menjelaskan beberapa hal yang terjadi dalam beberapa hari terakhir), dan memori jarak jauh (tanggal lahir, tanggal pernikahan dan acara berita).


12 Saraf kranial

Anda dapat menilai saraf kranial dengan melakukan beberapa prosedur tergantung pada saraf mana yang anda periksa.

  1. Nervus Olfaktori (N. I):
    Fungsi : merupakan saraf sensorik, untuk memeriksa bagian penciuman
    Cara Pemeriksaan:
    Pasien diminta untuk memejamkan matanya dengan alat bantu, dan pasien diminta untuk menyebutkan bau yang dirasakan (durian, kopi, bunga melati dan lain-lain)
  2. Nervus Optikus (N. II)
    Fungsi: merupakan saraf sensorik, untuk memeriksa bagian penglihatan
    Cara Pemeriksaan:
    a. menggunakan bantuan alat snelend card pasien diminta menyebutkan huruf yang ada didepannya dengan jarak 6 meter (minimal normalnya 6/6).
    b. Dan periksa lapang pandang dengan cara pasien diminta melihat ke arah samping dengan bantuan jari perawat serta posisi kepala tetap tegak lurus kedepan.
  3. Nervus Okulomotoris (N. III), nervus trokhlearis (N. IV), dan nervus Abdusen (N. VI) diperiksa secara bersama karena memegang peran yang berkaitan.
    Fungsi : merupakan jenis saraf motorik, untuk konstriksi dan dilatasi pupil, mengangkat kelopak mata keatas dan kebawah, dan sebagian gerakan ekstraokuler mata.
    Cara Pemeriksaan : a. Tes putaran bola mata, dengan cara meminta pasien untuk memutar bola matanya,
    b. Menggerakan konjungtiva, dengan cara memberika sentuhan di samping konjungtiva menggunakan kapas tipis
    b. Refleks pupil, dengan cara memberikan rangsangan cahaya terhadap kedua pupil pasien, normalnya jika ada cahaya maka pupil mengecil (miosis) dan jika tidak ada cahaya maka pupil melebar (midriasis), serta melihat kesimetrisan ukuran pupil tersebut apakah sama (isokor) atau berbeda (anisikor), normal ukuran pupil yaitu 2-4 mm.
    c. Inspeksi kelopak mata, dengan cara melihat apakah ada kelainan kelopak mata ataupun menurunan kelopak mata yang abnormal (ptosis)
  4. Nervus Trochlearis (N. IV)
    Fungsi: merupakan jenis saraf motorik, melakukan gerakan mata kebawah dan kedalam
    Cara Pemeriksaan: Sama dengan pemeriksaan nervus III
  5. Nervus Trigeminus (N. V)
    Fungsi: merupakan jenis saraf motorik, gerakan mengunya pada mulut, sensai wajah dengan sentuhan, kekuatan lidah dan gigi, refleks korenea dan refleks kedip
    Cara Pemeriksaan:
    a. menggerakan rahang kesemua sisi, dengan cara meminta pasien menutup mulut kemudian minta pasien untuk menggerakkan rahangnya keseluruh sisi
    b. Pemeriksaan sentuhan pipi da dahi, dengan cara pasien memejamkan mata, gunakan kapas lidi dan semtuh secara perlahat bagian dahi atau pipi serta meminta pasien untuk menanyakan apakah ada rangsangan atau tidak.
    c. Refleks kornea, dengan cara memberika sentuhan di samping kornea menggunakan kapas tipis
  6. Nervus Abdusen (N. VI)
    Fungsi: merupakan jenis saraf motorik, melihat deviasi mata ke arah lateral
    Cara pemeriksaan: sama dengan pemeriksaan nervus III
  7. Nervus Fasialis (N. VII)
    Fungsi: merupakan jenis saraf motorik, merupakan saraf ekspresi wajah
    Cara pemeriksaan:
    a. senyum, dengan cara meminta pasien untuk tersenyum
    b. bersiul, dengan cara meminta pasien utuk bersiul sekuat tenaga
    c. mengangkat alis mata, dengan cara meminta pasien untuk menggerakkan alis matanya ke atas dan kebawah secara cepat
    d. menutup kelopak mata dengan sebuah tahanan, dengan cara jari pemeriksa menahan kelopak mata pasien dan pasien diminta menutup mata (nilai kekuatan dan usaha pasien dalam menutup mata)
    e. membedakan rasa dengan cara mencicipi rasa seperti manis, asam, pahit, dengan gula dan garam
  8. Nervus Verstibulocochlearis (N. VIII)
    Fungsi: merupakan jenis saraf sensorik, untuk keseimbangan tubuh dan pendengaran
    Cara pemeriksaan:
    a. test webber, dengan cara menggunakan garputala, menggetarkannya dan meletakkan ditengah-tenah dahi (glabela) pasien, pasien diminta untuk membandingkan kekuatan hantaran kiri dan kanan.
    b. test rinne, dengan menggetarkan garputala dan mendekattkan ke arah telinga pasien, dan apabila sudah tidak terdengar suara lagi, langsung tempelkan pangkal garputala ke prosesus mastoideus pasien. dan dilakukan sebalikknya dari mastoideus kemudian jika tidak terdengar lagi dekatkan ke telinga (normal hantaran udara lebih besar dari hantaran tulang)
    c. test schwabach, dengan cara membandingkan antara hantaran udara telinga pasien dan hantaran udara telinga pemeriksa, dilakukan dengan cara menggetarkan garputala kemudian mendekatkan ke telinga pasien, jika pasien sudah tidak lagi mendengar maka segera dekatkan garputala ke telinga pemeriksa. (normalnya suara habis di pendengar pertama)
    d. test romberg, dengan cara pasien tegak lurus, kemudian kedua lengan memeluk dada. salah satu kaki pasien berada lurus didepan kaki lainnya dan tumit kaki depan menyentuk jempol kaki belakang. Kemudian pasien diminta untuk memejamkan mata. (normalnya pasien tidak jatuh ketika memejamkan mata)
    e. test tandem walking, pasien tegak lurus, kemudian pasien berjalan disatu garis lurus kedepan dengan kaki yang satu harus berada tepat didepan kaki lainnya. Pemeriksaan dilakukan dengan pasien memejamkan mata ataupun tidak. (normalnya pasien bisa berjalan lurus dan tidak jatuh)
  9. Nervus Glosofaringeus (N. IX)
    Fungsi: merupakan jenis saraf sensorik dan motorik, sensasi rasa
    Cara pemeriksaan:
    a. refleks munta, dengan cara pasien diberikan rangsangan refleks gag menggunakan tongue spatel di pangkal mulut
    b. membedakan rasa manis dan asam, dengan cara mencicipi rasa pada lidah pasien (mata tertutup)
  10. Nervus Vagus (N. X)
    Fungsi: merupakan jenis saraf sensorik dan motorik, refleks menelan dan muntah
    Cara pemeriksaan:
    a. pengucapan kata, minta pasien untuk menyebutkan kata Aaaaa...., periksa apakah terdapat regugitasi ke hidung serta lihat apakah terdapat perubahan pada denyut nadi pasien semelum dan setelah diperiksa
    b. menelan, mintalah pasien untuk menelan ludah atau makanan, dan periksa apakah terdapat tahanan ketika menelan tersebut
  11. Nervus Asesoris (N. XI)
    Fungsi: merupakan jenis saraf motorik, menggerakan bahu dan leher
    cara pemeriksaan:
    a. kekuatan bahu, dengan cara pasien duduk dan lakukan tahanan di kedua bahu klien, kemudian minta klien untuk mengangkat bahu, (bandingkann kekuatan tahan kanan dan kiri)
    b. kekuatan leher, denganc ara pemeriksa menahan salah satu leher pasien, kemudian pasin diminta untuk menoleh ke sisi yang ditahan pemeriksa tersebut (nilai kekuatan pasien) dan lakukan ke arah sebalikknya
  12. Nervus Hipoglosus (N. XII)
    Fugsi: merupakan jenis saraf motorik, gerakan lidah
    cara pemeriksaan:
    a. kecepatan lidah, pasien diminta untuk menjulurkan lidah ke luar dan kedalam secan cepat (nilai kecepatan pasien)
    b. kekuatan lidah, pemeriksa memegang kedua pipi pasien, kemudian minta pasien untuk menutup mulut serta menggerakkan lidah sekuat tenaga ke sisi-sisi dalam mulut (nilai kekuatan pasien)

Fungsi motorik


Untuk menilai fungsi motorik, Anda mungkin perlu fokus dan gerakan lengan dan kaki, simetri dan ukuran otot, tonus otot, kekuatan otot, gerakan tak terkendali, postur dan gaya berjalan.

Beberapa perawat, terutama para pemula di lapangan mungkin panik saat melihat urutan penilaian neurologis dalam bagan pasien. Namun, penilaian ini tidak perlu ditakuti karena benar-benar membantu kita melihat status kesehatan dan neurologis pasien dan memberi petunjuk kepada kita tentang apa yang perlu difokuskan dan apa yang harus diwaspadai.


Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Pemeriksaan Otak : Penilaian Saraf Neurologis , semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami. Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

0 komentar