Laporan Pendahuluan Askep Fraktur Antebrachii pdf doc

12:25 PM

Laporan Pendahuluan Askep Fraktur Antebrachii pdf doc


Laporan Pendahuluan Askep Fraktur Antebrachii pdf doc

  1. PENGERTIAN
         Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem (Bruner & Sudarth, 2002).

         Fraktur antebrachii merupakan suatu perpatahan pada lengan bawah yaitu pada tulang radius dan ulna dimana kedua tulang tersebut mengalami perpatahan. Dibagi atas tiga bagian perpatahan yaitu bagian proksimal, medial , serta distal dari kedua corpus tulang tersebut. Fraktur ini juga bisa mengenai anak-anak yang biasanya disebut fraktur Green stick (Appley, 1995). Penanganan fraktur tersebut dapat dilakukan reposisi serta reduksi dengan menggunakan pembidaian (gips) maupun dengan reduksi secara terbuka yaitu dengan Tindakan ORIF dengan pemasangan plate dan screw. Dari tindakan operatif tersebut menimbulkan adanya suatu permasalahan yang meliputi gangguan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional, yaitu adanya keluhan nyeri bekas incisi serta nyeri gerak, oedema, keterbatasan LGS, penurunan kekuatan otot, serta penurunan aktivitas sehari-hari (ADL).

         Fraktur antebrachii yang tidak mendapat penanganan yang baik akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti adanya gangguan aktivitas atau hilangnya fungsi dari anggota badan itu sendiri, proses penyembuhan tulang yang lama atau pula dapat meningkatkan adanya perubahan bentuk (deformitas) yang terjadi pada tulang itu sendiri, dan terjadinya komplikasi yang dapat memperburuk keadaan.

         Pada kondisi fraktur antebrachii tersebut fisioterapi mempunyai peranan dan tanggung jawab dalam mengatasi masalah mengurangi nyeri, mengurangi oedema, meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerak sendi (LGS), serta mengoptimalkan aktivitas sehari-hari (ADL). Disini fisioterapi menggunakan modalitas yaitu Infra Red (IR) , Massage, Terapi Latihan yang dapat bermanfaat untuk mengurangi nyeri, mengurangi oedema, mengurangi spasme, meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerak sendi (LGS), serta melatih aktivitas fungsional seperti berpakaian, menyisir serta segala aktivitas yang melibatkan lengan dan tangan.


  2. KLASIFIKASI
    Klasifikasi fraktur secara umum :
    1. Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, ulna, radius dan cruris dst).
    2. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur:
      1. Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang).
      2. Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang).
    3. Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah :
      1. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
      2. Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
      3. Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
    4. Berdasarkan posisi fragmen :
      1. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
      2. Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen
    5. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
      1. Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
        1. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya.
        2. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
        3. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.
        4. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement.
      2. Fraktur Terbuka (Open/Compound),  bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
        Fraktur terbuka dibedakan menjadi beberapa grade yaitu :
        1. Grade I : luka bersih, panjangnya kurang dari 1 cm.
        2. Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
        3. Grade III : sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.
    6. Berdasar bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma :
      1. Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
      2. Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.
      3. Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.
      4. Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
      5. Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang..
    7. Berdasarkan kedudukan tulangnya :
      1. Tidak adanya dislokasi.
      2. Adanya dislokasi
        1. At axim : membentuk sudut.
        2. At lotus : fragmen tulang berjauhan.
        3. At longitudinal : berjauhan memanjang.
        4. At lotus cum contractiosnum : berjauhan dan memendek.
    8. Berdasarkan posisi frakur
      Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
      1. 1/3 proksimal
      2. 1/3 medial
      3. 1/3 distal
    9. Fraktur Kelelahan : Fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
    10. Fraktur Patologis : Fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
  3. macam-macam fraktur


  4. ETIOLOGI
    1. Trauma langsung/ direct trauma
           Yaitu apabila fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa (misalnya benturan, pukulan yang mengakibatkan patah tulang).
    2. Trauma yang tak langsung/ indirect trauma
           Misalnya penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur pada pegelangan tangan.
    3. Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila tulang itu sendiri rapuh/          Ada resiko terjadinya penyakit yang mendasari dan hal ini disebut dengan fraktur patologis.
    4. Kekerasan akibat tarikan otot
           Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.

         Menurut Mansjoer (2000), ada empat jenis fraktur antebrachii yang khas beserta penyebabnya yaitu :
    1. Fraktur Colles
           Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok makan (dinner fork deformity). Pasien terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam (endorotasi). Tangan terbuka yang terfiksasi di tanah berputar keluar (eksorotasi/supinasi).
    2. Fraktur Smith
           Fraktur Smith merupakan fraktur dislokasi ke arah anterior (volar), karena itu sering disebut reverse Colles fracture. Fraktur ini biasa terjadi pada orang muda. Pasien jatuh dengan tangan menahan badan sedang posisi tangan dalam keadaan volar fleksi pada pergelangan tangan dan pronasi. Garis patahan biasanya transversal, kadang-kadang intraartikular.
    3. Fraktur Galeazzi
           Fraktur Galeazzi merupakan fraktur radius distal disertai dislokasi sendi radius ulna distal. Saat pasien jatuh dengan tangan terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan bawah dalam posisi pronasi waktu menahan berat badan yang memberi gaya supinasi.
    4. Fraktur Montegia
           Fraktur Montegia merupakan fraktur sepertiga proksimal ulna disertai dislokasi sendi radius ulna proksimal. Terjadi karena trauma langsung.


  5. ANATOMI FISIOLOGI FRAKTUR
         Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada ba intra-seluler. Tulang berasal dari embrionic hyaline cartilage yang mana melalui proses “Osteogenesis” menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut “Osteoblast”. Proses mengerasnya tulang akibat penimbunan garam kalsium.

    Berikut ini anatomi tulang antebrachii
    1. Tulang ulna
           Menurut Snell (2012) ulna adalah tulang stabilisator pada lengan bawah, terletak medial dan merupakan tulang yang lebih panjang dari dua tulang lengan bawah. Ulna adalah tulang medial antebrachium. Ujung proksimal ulna besar dan disebut olecranon, struktur ini membentuk tonjolan siku. Corpus ulna mengecil dari atas ke bawah.
    2. Anatomi os Ulna
      Anatomi os Ulna

    3. Tulang Radius
           Radius terletak di lateral dan merupakan tulang yang lebih pendek dari dari dua tulang di lengan bawah. Ujung proksimalnya meliputi caput pendek, collum, dan tuberositas yang menghadap ke medial. Corpus radii, berbeda dengan ulna, secara bertahap membesar saat ke  distal. Ujung distal radius berbentuk sisi empat ketika dipotong melintang. Processus styloideus radii lebih besar daripada processus styloideus ulnae dan memanjang jauh ke distal. Hubungan tersebut memiliki kepentingan klinis ketika ulna dan/atau radius mengalami fraktur (Hartanto, 2013).
    4. Anatomi os Radius
      Anatomi os Radius
    5. Sistem Otot
      Tabel 2.1 Sistem otot lengan bawah (Snell, 2012)
      Fungsi
      Otot
      Origo
      Insersio
      Nerve
      Action
      Flexors
      m.   biceps
      brachii
      Caput
      longum: tuberositas supraglenoida lis
      Caput  brevis: processus coracoideus
      Bagian
      posterior tuberositas radius
      Musculocut
      aneus    (C5, C6)
      Flexi
      shoulder dan elbow, supinasi forearm
      m.
      brachialis
      Setengah
      bawah permukaan depan       dari humerus, intermuscular septum
      Processus
      coronoideus dan tuberositas ulna
      Musculocut
      aneus (C5, C6), radial nerve (C7)
      Flexi
      elbow
      m.
      brachiora dialis
      Di    atas    2/3
      lateral supracondylus humerus, lateral intermuscular septum
      Sisi    lateral
      dari   radius di           atas processus styloideus
      Radial
      nerve    (C5, C6)
      Flexi
      elbow
      m.
      pronator teres
      Caput
      humerus: epicondylus medialis humeri Caput ulnaris: processus coronoideus
      Pertengahan
      dari permukaan lateral radius
      Median
      nerve    (C6, C7)
      Pronasi
      forearm, flexi elbow
      Extensors
      m.  triceps
      brachii
      Long      head:
      infraglenoid
      Permukaan
      atas
      Radial
      nerve    (C6-
      Extensi
      elbow

      tubercle
      scapula
      olecranon
      C8)
      dan
      shoulder
      m.
      anconeus
      Permukaan
      belakang epicondylus lateral humerus
      Permukaan
      lateral olecranon, sepermpat atas permukaan belakang ulna
      Radial
      nerve    (C6- C8)
      Extensi
      elbow
      Pronators
      m.
      pronator teres
      Caput
      humerus: epicondylus medialis humeri Caput ulnaris: processus coronoideus
      Pertengahan
      dari permukaan lateral radius
      Median
      nerve    (C6, C7)
      Pronasi
      forearm, flexi elbow
      m.
      pronator quadratus
      Bagian bawah
      dari permukaan depan ulna
      Bagian
      bawa dari permukaan depan
      radius
      Median
      nerve    (C7, C8)
      Pronasi
      forearm
      Supinators
      m.
      supinator
      Epycondylus
      lateralis humeri,      lig colaterale radiale     dan anulare  radii, crista musculi supinatori
      ulna
      Facies
      anterior radii (proximal dan     distal dari tuberositas radii)
      Posterior
      interosseous nerve (C6, C7)
      Supinasi
      forearm
      m.   biceps
      brachii
      Caput
      longum: tuberositas supraglenoida lis
      Caput  brevis: processus coracoideus
      Bagian
      posterior tuberositas radius
      Musculocut
      aneus    (C5, C6)
      Flexi
      shoulder dan elbow, supinasi forearm

  6. PATOFISIOLOGI
         Apabila tulang hidup normal mendapat tekanan yang berlebihan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan tersebut mengakibatkan jaringan tidak mampu menahan kekuatan yang mengenainya. Maka tulang menjadi patah sehingga tulang yang mengalami fraktur akan terjadi perubahan posisi tulang, kerusakan hebat pada struktur jaringan lunak dan jaringan disekitarnya yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan yang mengelilinginya (Long, B.C, 1996). Periosteum akan terkelupas dari tulang dan robek dari sisi yang berlawanan pada tempat terjadinya trauma. Ruptur pembuluh darah didalam fraktur, maka akan timbul nyeri. Tulang pada permukaan fraktur yang tidak mendapat persediaan darah akan mati sepanjang satu atau dua millimeter.

         Setelah fraktur lengkap, fragmen-fragmen biasanya akan bergeser, sebagian oleha karena kekuatan cidera dan bias juga gaya berat dan tarikan otot yang melekat. Fraktur dapat tertarik dan terpisah atau dapat tumpang tindih akibat spasme otot, sehingga terjadi pemendekkan tulang (Apley, 1995), dan akan menimbulkan derik atau krepitasi karena adanya gesekan antara fragmen tulang yang patah (Long, B.C, 1996).

    Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur :
    1. Faktor Ekstrinsik
      Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
    2. Faktor Intrinsik
      Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.
    Pathway Fraktur
    Pathway Fraktur
    pathway fraktur


  7. MANIFESTASI KLINIS
         Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ektremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna yang dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
    1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
    2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ektremitas yang bisa diketahui dengan membandingkannya dengan ektremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot tergantung pada integritasnya tulang tempat melekatnya otot.
    3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci).
    4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.
    5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini biasa terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.

         Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur. Kebanyakan justru tidak ada pada fraktur linear atau fisur atau fraktur impaksi (permukaan patahan saling terdesak satu sama lain). Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik, dan pemeriksaan sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut.


  8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
    Berikut ini pemeriksaan penunjang yang dapatdilakukan pada pasien fraktur :

    1. X.Ray dilakukan untuk melihat bentuk patahan atau keadaan tulang yang cedera.
    2. Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
    3. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
    4. CCT kalau banyak kerusakan otot.
    5. Pemeriksaan Darah Lengkap

         Lekosit turun/meningkat, Eritrosit dan Albumin turun, Hb, hematokrit sering rendah akibat perdarahan, Laju Endap Darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas, Pada masa penyembuhan Ca meningkat di dalam darah, traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multiple, atau cederah hati.


  9. KOMPLIKASI
    1. Komplikasi Awal
      1. Kerusakan Arteri
             Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
      2. Kompartement Syndrom
             Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang tertutup di otot, yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot. Gejala – gejalanya mencakup rasa sakit karena ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit yang berhubungan dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen, rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot yang terlibat, dan paresthesia. Komplikasi ini terjadi lebih sering pada fraktur tulang kering (tibia) dan tulang hasta (radius atau ulna).
      3. Fat Embolism Syndrom
             Merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat menyebabkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung – gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak. Gelombang lemak ini akan melewati sirkulasi dan dapat menyebabkan oklusi pada pembuluh – pembuluh darah pulmonary yang menyebabkan sukar bernafas. Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dyspnea, perubahan dalam status mental (gaduh, gelisah, marah, bingung, stupor), tachycardia, demam, ruam kulit ptechie.
      4. Infeksi
             System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
      5. Avaskuler Nekrosis
             Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan  nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia. Nekrosis avaskular dapat terjadi saat suplai darah ke tulang kurang baik. Hal ini paling sering mengenai fraktur intrascapular femur (yaitu kepala dan leher), saat kepala femur berputar atau keluar dari sendi dan menghalangi suplai darah. Karena nekrosis avaskular mencakup proses yang terjadi dalam periode waktu yang lama, pasien mungkin tidak akan merasakan gejalanya sampai dia keluar dari rumah sakit. Oleh karena itu, edukasi pada pasien merupakan hal yang penting. Perawat harus menyuruh pasien supaya melaporkan nyeri yang bersifat intermiten atau nyeri yang menetap pada saat menahan beban
      6. Shock
             Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
      7. Osteomyelitis
             Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum dan korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari luar tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh). Patogen dapat masuk melalui luka fraktur terbuka, luka tembus, atau selama operasi. Luka tembak, fraktur tulang panjang, fraktur terbuka yang terlihat tulangnya, luka amputasi karena trauma dan fraktur – fraktur dengan sindrom kompartemen atau luka vaskular memiliki risiko osteomyelitis yang lebih besar

    2. Komplikasi Dalam Waktu Lama:
      1. Delayed Union (Penyatuan tertunda)
             Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.
      2. Non union (tak menyatu)
             Penyatuan tulang tidak terjadi,  cacat diisi  oleh  jaringan  fibrosa. Kadang-kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat ini. Faktor – faktor yang dapat menyebabkan non union adalah tidak adanya imobilisasi, interposisi jaringan lunak, pemisahan lebar dari fragmen contohnya patella dan fraktur yang bersifat patologis..
      3. Malunion
             Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk menimbulkan deformitas, angulasi atau pergeseran.


  10. STADIUM PENYEMBUHAN FRAKTUR
         Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:
    fase penyembuhan tulang
    fase penyembuhan tulang
    1. Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
           Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
    2. Stadium Dua-Proliferasi Seluler
           Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yg menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.  
    3. Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
           Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu. 
    4. Stadium Empat-Konsolidasi
           Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan  osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal. 
    5. Stadium Lima-Remodelling
           Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.


  11. PENATALAKSANAAN MEDIS
         Berikut adalah penatalaksanaan fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) :
    1. Fraktur Colles
           Pada fraktur Colles tanpa dislokasi hanya diperlukan imobilisasi dengan pemasangan gips sirkular di bawah siku selama 4 minggu. Bila disertai dislokasi diperlukan tindakan reposisi tertutup. Dilakukan dorsofleksi fragmen distal, traksi kemudian posisi tangan volar fleksi, deviasi ulna (untuk mengoreksi deviasi radial) dan diputar ke arah pronasio (untuk mengoreksi supinasi). Imobilisasi dilakukan selama 4 - 6 minggu.
    2. Fraktur Smith
           Dilakukan reposisi dengan posisi tangan diletakkan dalam posisi dorsofleksi ringan, deviasi ulnar, dan supinasi maksimal (kebalikan posisi Colles). Lalu diimobilisasi dengan gips di atas siku selama 4 - 6 minggu.
    3. Fraktur Galeazzi
           Dilakukan reposisi dan imobilisasi dengan gips di atas siku, posisi netral untuk dislokasi radius ulna distal, deviasi ulnar, dan fleksi.
    4. Fraktur Montegia
           Dilakukan reposisi tertutup. Asisten memegang lengan atas, penolong melakukan tarikan lengan bawah ke distal, kemudian diputar ke arah supinasi penuh. Setelah itu, dengan jari kepala radius dicoba ditekan ke tempat semula. Imobilisasi gips sirkuler dilakukan di atas siku dengan posisi siku fleksi 90° dan posisi lengan bawah supinasi penuh. Bila gagal, dilakukan reposisi terbuka dengan pemasangan fiksasi interna (plate-screw).

    Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah :
    1. Untuk menghilangkan rasa nyeri.
           Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, namun karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat penghilang rasa nyeri dan juga dengan tehnik imobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang fraktur). Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips.
      1. Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
      2. Pemasangan gips :
        Merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah. Gips yang ideal adalah yang membungkus tubuh sesuai dengan bentuk tubuh. Indikasi dilakukan pemasangan gips adalah :
        1. Immobilisasi dan penyangga fraktur
        2. Istirahatkan dan stabilisasi
        3. Koreksi deformitas
        4. Mengurangi aktifitas
        5. Membuat cetakan tubuh orthotik
        Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah :
        1. Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan
        2. Gips patah tidak bisa digunakan
        3. Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien
        4. Jangan merusak / menekan gips
        5. Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips / menggaruk
        6. Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama
    2. Gips

    3. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur.
           Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk itu diperlukan lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau fiksasi internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri.
      1. Penarikan (traksi) :
             Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada ekstermitas pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah. Metode pemasangan traksi antara lain :
        1. Traksi manual
          Tujuannya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi fraktur, dan pada keadaan emergency
        2. Traksi mekanik, ada 2 macam :
          1. Traksi kulit (skin traction)
            Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk sturktur yang lain misal otot. Digunakan dalam waktu 4 minggu dan beban < 5 kg.
          2. Traksi skeletal
            Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal / penjepit melalui tulang / jaringan metal.
        Kegunaan pemasangan traksi, antara lain :
        1. Mengurangi nyeri akibat spasme otot
        2. Memperbaiki & mencegah deformitas
        3. Immobilisasi
        4. Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi)
        5. Mengencangkan pada perlekatannya
        traksi
        Prinsip pemasangan traksi :
        1. Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik
        2. Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan pemberat agar reduksi dapat dipertahankan
        3. Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus
        4. Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol
        5. Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai

      2. Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang.
             Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak keunggulannya mungkin adalah pembedahan. Metode perawatan ini disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka. Pada umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur. Hematoma fraktur dan fragmen-fragmen tulang yang telah mati diirigasi dari luka. Fraktur kemudian direposisi dengan tangan agar menghasilkan posisi yang normal kembali. Sesudah direduksi, fragmen-fragmen tulang ini dipertahankan dengan alat-alat ortopedik berupa pen, sekrup, pelat, dan paku.

        Keuntungan perawatan fraktur dengan pembedahan antara lain :
        1. Ketelitian reposisi fragmen tulang yang patah
        2. Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf yang berada didekatnya
        3. Dapat mencapai stabilitas fiksasi yang cukup memadai
        4. Tidak perlu memasang gips dan alat-alat stabilisasi yang lain
        5. Perawatan di RS dapat ditekan seminimal mungkin, terutama pada kasus-kasus yang tanpa komplikasi dan dengan kemampuan mempertahankan fungsi sendi dan fungsi otot hampir normal selama penatalaksanaan dijalankan

        Macam-macam fikasi, yaitu dibagi 2 :
        1. FIKSASI INTERNA
               Intramedullary nail ideal untuk fraktur transversal, tetapi untuk fraktur lainnya kurang cocok. Fraktur dapat dipertahankan lurus dan terhadap panjangnya dengan nail, tetapi fiksasi mungkin tidak cukup kuat untuk mengontrol rotasi. Nailing diindikasikan jika hasil pemeriksaan radiologi memberi kesan bahwa jaringan lunak mengalami interposisi di antara ujung tulang karena hal ini hampir selalu menyebabkan non-union.

               Keuntungan intramedullary nailing adalah dapat memberikan stabilitas longitudinal serta kesejajaran (alignment) serta membuat penderita dápat dimobilisasi cukup cepat untuk meninggalkan rumah sakit dalam waktu 2 minggu setelah fraktur. Kerugian meliput anestesi, trauma bedah tambahan dan risiko infeksi.

               Closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat dengan trauma yang minimal, tetapi paling sesuai untuk fraktur transversal tanpa pemendekan. Comminuted fracture paling baik dirawat dengan locking nail yang dapat mempertahankan panjang dan rotasi.
        2. FIKSASI INTERNA

        3. FIKSASI EKSTERNA
               Bila fraktur yang dirawat dengan traksi stabil dan massa kalus terlihat pada pemeriksaan radiologis, yang biasanya pada minggu ke enam, cast brace dapat dipasang. Fraktur dengan intramedullary nail yang tidak memberi fiksasi yang rigid juga cocok untuk tindakan ini.
        4. FIKSASI EKSTERNA
      3. Agar terjadi penyatuan tulang kembali
             Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang terdapat gangguan dalam penyatuan tulang, sehingga dibutuhkan graft tulang.

      4. Untuk mengembalikan fungsi seperti semula
             Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FRAKTUR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FRAKTUR

  1. PENGKAJIAN
         Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
    1. Pengumpulan Data
      1. Anamnesa
        1. Identitas Klien
               Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
        2. Keluhan Utama
               Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
          1. Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri.
          2. Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
          3. Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
          4. Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan  skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
          5. Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.
        3. Riwayat Penyakit Sekarang
               Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain
        4. Riwayat Penyakit Dahulu
               Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang
        5. Riwayat Penyakit Keluarga
               Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik
        6. Riwayat Psikososial
               Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat
        7. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
          1. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
                 Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak
          2. Pola Nutrisi dan Metabolisme
                 Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
          3. Pola Eliminasi
                 Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. Pola Tidur dan Istirahat Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
          4. Pola Aktivitas
                 Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain
          5. Pola Hubungan dan Peran
                 Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap
          6. Pola Persepsi dan Konsep Diri
                 Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image)
          7. Pola Sensori dan Kognitif
                 Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur
          8. Pola Reproduksi Seksual
                 Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya
          9. Pola Penanggulangan Stress
                 Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
          10. Pola Tata Nilai dan Keyakinan
                 Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien

      2. Pemeriksaan Fisik
             Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.
        1. Gambaran Umum
          Perlu menyebutkan:
          1. Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:
            1. Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien.
            2. Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
            3. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
          2. Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
            1. Sistem Integumen
              Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.
            2. Kepala
              Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
            3. Leher
              Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada.
            4. Muka
              Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
            5. Mata
              Terdapat gangguan seperti konjungtiva anemis (jika terjadi perdarahan)
            6. Telinga
              Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan.
            7. Hidung
              Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
            8. Mulut dan Faring
              Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
            9. Thoraks
              Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
            10. Paru
              • Inspeksi
                Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
              • Palpasi
                Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
              • Perkusi
                Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
              • Auskultasi
                Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.
            11. Jantung
              • Inspeksi
                Tidak tampak iktus jantung.
              • Palpasi
                Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
              • Auskultasi
                Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
            12. Abdomen
              • Inspeksi
                Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
              • Palpasi
                Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
              • Perkusi
                Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
              • Auskultasi
                Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit.
            13. Inguinal-Genetalia-Anus
              Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.

        2. Keadaan Lokal
               Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler à 5 P yaitu Pain, Palor, Parestesia, Pulse, Pergerakan). Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:
          1. Look (inspeksi)
            Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
            1. Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).
            2. Cape au lait spot (birth mark).
            3. Fistulae.
            4. Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
            5. Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal).
            6. Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
            7. Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)

          2. Feel (palpasi)
                 Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien. Yang perlu dicatat adalah:
            1. Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Capillary refill time à Normal > 3 deti
            2. Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian
            3. Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah, atau distal).
                 Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau  permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.

          3. Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
                 Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif.


    2. Pemeriksaan Diagnostik
      1. Pemeriksaan Radiologi
             Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi  kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-ray:
        1. Bayangan jaringan lunak.
        2. Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi.
        3. Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
        4. Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.

        Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:
        1. Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
        2. Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.
        3. Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.
        4. Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.

      2. Pemeriksaan Laboratorium
        1. Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
        2. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
        3. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase  (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.

      3. Pemeriksaan lain-lain:
        1. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.
        2. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
        3. Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.
        4. Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.
        5. Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
        6. MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.


  2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
    Berikut ini diagnosa keperawatan pada pasien fraktur:
    1. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas, luka operasi.
    2. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti)
    3. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)
    4. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup)
    5. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)
    6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada


  3. INTERVENSI KEPERAWATAN
    Berikut ini intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa yang munci pada pasien fraktur
No
DIANGOSA KEPERAWATAN
TUJUAN (NOC)
INTERVENSI (NIC)
1
Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas, luka operasi.
NOC
·      Pain Level,
·      Pain control,
·      Comfort level
Kriteria Hasil :
·      Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
·      Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
·      Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan   tanda nyeri)
·      Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
·      Tanda vital dalam rentang normal

NIC
Pain Management
·      Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
·      Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
·      Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
·      Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
·      Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
·      Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
·      Kurangi faktor presipitasi nyeri
·      Ajarkan tentang teknik non farmakologi
·      Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
·      Tingkatkan istirahat
·      Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
·      Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

2
Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti)
NOC :
·      Respiratory Status : Gas exchange
·      Respiratory Status : ventilation
·      Vital Sign Status

Kriteria Hasil :
·      Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
·      Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda tanda distress pernafasan
·      Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu   bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
·     Tanda tanda vital dalam rentang normal

NIC :
Airway Management
·      Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
·      Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
·      Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
·      Pasang mayo bila perlu
·      Lakukan fisioterapi dada jika perlu
·      Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
·      Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
·      Lakukan suction pada mayo
·      Berika bronkodilator bial perlu
·      Barikan pelembab udara
·      Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
·      Monitor respirasi dan status O2

Respiratory Monitoring
·      Monitor rata – rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
·      Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
·      Monitor suara nafas, seperti dengkur
·      Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
·      Monitor kelelahan otot diagfragma (gerakan paradoksis)
·      Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
·      Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas utama
·      Auskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasilnya

3
Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi).
NOC :
·      Joint Movement : Active
·      Mobility Level
·      Self care : ADLs
·      Transfer performance

Kriteria Hasil :
·      Klien meningkat dalam aktivitas fisik
·      Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
·      Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan berpindah
·      Memperagakan penggunaan alat Bantu untuk mobilisasi (walker)

Latihan Kekuatan
·      Ajarkan dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan program latihan secara rutin

Latihan untuk ambulasi
·      Ajarkan teknik Ambulasi & perpindahan yang aman kepada klien dan keluarga.
·      Sediakan alat bantu untuk klien seperti kruk, kursi roda, dan walker
·      Beri penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam batasan yang aman.

Latihan mobilisasi dengan kursi roda
·      Ajarkan pada klien & keluarga tentang cara pemakaian kursi roda & cara berpindah dari kursi roda ke tempat tidur atau sebaliknya.
·      Dorong klien melakukan latihan untuk memperkuat anggota tubuh
·      Ajarkan pada klien/ keluarga tentang cara penggunaan kursi roda

Latihan Keseimbangan
·      Ajarkan pada klien & keluarga untuk dapat mengatur posisi secara mandiri dan menjaga keseimbangan selama latihan ataupun dalam aktivitas sehari hari.

Perbaikan Posisi Tubuh yang Benar
·      Ajarkan pada klien/ keluarga untuk mem perhatikan postur tubuh yg benar untuk menghindari kelelahan, keram & cedera.
·      Kolaborasi ke ahli terapi fisik untuk program latihan.

4
Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup)
NOC :
·      Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes

Kriteria Hasil :
·      Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
·      Melaporkan adanya gangguan sensasi atau nyeri pada daerah kulit yang mengalami gangguan
·      Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang
·      Mampumelindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

NIC Pressure Management
·      Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
·      Hindari kerutan padaa tempat tidur
·      Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
·      Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali
·      Monitor kulit akan adanya kemerahan
·      Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan
·      Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
·      Monitor status nutrisi pasien
·      Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

5
Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)
NOC :
·      Immune Status
·      Risk control

Kriteria Hasil :
·      Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
·      Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
·      Jumlah leukosit dalam batas normal
·      Menunjukkan perilaku hidup sehat

NIC :
Infection Control (Kontrol infeksi)
·      Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
·      Pertahankan teknik isolasi
·      Batasi pengunjung bila perlu
·      Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
·      Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
·      Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan
·      Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
·      Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
·      Ganti letak Iperifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
·      Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
·      Tingktkan intake nutrisi
·      Berikan terapi antibiotik bila perlu

Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
·      Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
·      Monitor hitung granulosit, WBC
·      Monitor kerentanan terhadap infeksi
·      Batasi pengunjung
·      Saring pengunjung terhadap penyakit menular
·      Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
·      Pertahankan teknik isolasi k/p
·      Berikan perawatan kuliat pada area epidema
·      Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
·      Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
·      Dorong masukkan nutrisi yang cukup
·      Dorong masukan cairan
·      Dorong istirahat
·      Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
·      Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
·      Ajarkan cara menghindari infeksi
·      Laporkan kecurigaan infeksi
·      Laporkan kultur positif

6
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada
NOC :
·      Kowlwdge : disease process
·      Kowledge : health Behavior

Kriteria Hasil :
·      Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
·      Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
·      Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya
NIC :
Teaching : disease Process
·      Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik
·      Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
·      Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
·      Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
·      Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
·      Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
·      Hindari harapan yang kosong
·      Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat
·      Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
·      Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
·      Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
·      Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
·      Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan cara yang tepat
·     Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat



Daftar Pustaka

  1. Apley,  A.Graham, 1995. Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley: Edisi ketujuh. Widya Medika. Jakarta.
  2. Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC. Jakarta
  3. Carpenito, LJ. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC.
  4. Doengoes, M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
  5. Ircham Machfoedz, 2007. Pertolongan Pertama di Rumah, di Tempat Kerja, atau di Perjalanan. Yogyakarta: Fitramaya.
  6. Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
  7. Long, B.C,1996. Perawatan Medical BedahSuatu Pendekatan Proses Keperawatan, alih bahasa: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran Bandung, Bandung.
  8. Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid I. Jakarta: Media Aesculapius.
  9. Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius
  10. Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River.
  11. Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika.
  12. Smeltzer, S.C., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
  13. Snell, Richard. 2012. Neuro Anatomi Klinik. Jakarta: Buku kedokteran EGC.
l
Sumber : Perawat Kita Satu

Demikianlah artikel singkat dari kami ini dengan judul Laporan Pendahuluan Askep Fraktur pdf doc. Semoga apa yang kami sajikan diatas bermanfaat.

Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Laporan Pendahuluan Askep Fraktur Antebrachii pdf doc, semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami. Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

0 komentar