Intervensi Keperawatan Risiko Bunuh Diri Lengkap

Intervensi Keperawatan Risiko Bunuh Diri

Intervensi pasien dengan resiko bunuh diri
Intervensi pasien dengan resiko bunuh diri

Tujuan :
  1. Klien dapat membina hubungan saling percaya   
  2. Klien dapat mengekspresikan perasaannya   
  3. Klien dapat meningkatkan harga diri   
  4. Klien menggunakan dukungan sosial   
  5. Klien menggunakan dukungan sosial   

Kriteria Evaluasi:
  1. Menjawab salam
  2. Kontak mata
  3. Menerima perawat
  4. Berjabat tangan   
  5. Menceritakan penderitaan secara terbuka dan konstruktif dengan orang lain
  6. Mengenang dan meninjau kembali kehidupan secara positif
  7. Mempertimbngkan nilai-nilai dan arti kehidupan
  8. Mengekspresikan perasaan-perasaan yang optimis tentang yang ada   
  9. Mengekspresikan perasaan tentang hubungan yang positif dengan orang terdekat
  10. Mengekspresikan percaya diri dengan hasil yang diinginkan
  11. Mengekspresikan percaya diri dengan diri dan orang lain
  12. Menetapkan tujuan-tujuan yang realistis   
  13. Sumber tersedia (keluarga, lingkungan, dan masyarakat)
  14. Keyakinan makin meningkat   


Intervensi Keperawatan :
  1. Kenalkan diri pada klien
  2. Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal
  3. Bicara tega, jelas, dan jujur
  4. Bersifat hargai dan bersahabat
  5. Temani klien saat keinginan menciderai diri meningkat
  6. Jauhkan klien dari benda-benda yang membahayakan (seperti pisau, silet, gunting, tali kaca, dll)
  7. Dengarkan keluhan yang klien rasakan
  8. Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan, dan keprihatinan
  9. Beri dorongan pada klien untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana harapan karena harapan adalah hal yang terpenting dalam kehidupan
  10. Beri klien waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaan kematian dan sekarat
  11. Beri dorongan pada klien untuk mengekspresikan tentang mengapa harapan tidak pasti dan dalam hal-hal dimana harapan mempunyai kegagalan
  12. Bantu klien untuk memahami bahwa ia dapat mengatasi aspek-aspek keputusasaan dan memisahkan dari aspek harapan
  13. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu (outonomi, mandiri, rasional pemikiran kognitif, fleksibilitas dan spriritualitas)
  14. Bnatu klien mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan)
  15. Bantu klien mengembangkan tujuan-tujuan realitas jangka panjang dan jangka pendek (beralih dari yang sederhana ke yang lebih kompleks, dapat menggunakan suatu poster tujuan untuk menandakan jenis dan waktu untuk pencapaian tujuan-tujuan spesifik)
  16. Ajarkan klien untuk mengantisipasi pengalaman yang dia senang melakukan setiap hari(missal; berjalan, membaca buku favorit dan menulis surat)
  17. Bantu klien untuk mengenali hal-hal yang dicintai, yang ia saying dan pentingnya terhadap kehidupan orang lain disamping tentang kegagalan dalam kesehatan
  18. Beri dorongan pada klien untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai masalah dan/atau penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi tersebut dengan koping yang efektif
  19. Kaji dan kerahkan sumber-sumber eksternal individu (orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung agama yang dianutnya)
  20. Kaji system pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama). Lakukan rujukan selesai indikasi (missal; konseling dan pemuka agama)


STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI



Tgl
No Diagnosa
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Intervensi
Tujuan
Kriteria Evaluasi


Risiko Bunuh Diri
1.  Klien dapat membina hubungan saling percaya
1.                1.     Menjawab salam
2.        Kontak mata
3.        Menerima perawat
4.        Berjabat tangan
1.        Kenalkan diri pada klien
2.        Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal
3.        Bicara tega, jelas, dan jujur
4.        Bersifat hargai dan bersahabat
5.        Temani klien saat keinginan menciderai diri meningkat
6.        Jauhkan klien dari benda-benda yang membahayakan (seperti pisau, silet, gunting, tali kaca, dll)



2.   Klien dapat mengekspresikan perasaannya
1.      Menceritakan penderitaan secara terbuka dan konstruktif dengan orang lain
1.        Dengarkan keluhan yangklien rasakan
2.        Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan, dan keprihatinan
3.        Beri dorongan pada klien untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana harapan karena harapan adalah hal yang terpenting dalam kehidupan
4.        Beri klien waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaan kematian dan sekarat
5.        Beri dorongan pada klien untuk mengekspresikan tentang mengapa harapan tidak pasti dan dalam hal-hal dimana harapan mempunyai kegagalan



3.   Klien dapat meningkatkan harga diri
1.        Mengenang dan meninjau kembali kehidupan secara positif
2.        Mempertimbngkan nilai-nilai dan arti kehidupan
3.        Mengekspresikan perasaan-perasaan yang optimis tentang yang ada
1.         Bantu klien untuk memahami bahwa ia dapat mengatasi aspek-aspek keputusasaan dan memisahkan dari aspek harapan
2.         Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu (outonomi, mandiri, rasional pemikiran kognitif, fleksibilitas dan spriritualitas)
3.         Bnatu klien mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan)
4.         Bantu klien mengembangkan tujuan-tujuan realitas jangka panjang dan jangka pendek (beralih dari yang sederhana ke yang lebih kompleks, dapat menggunakan suatu poster tujuan untuk menandakan jenis dan waktu untuk pencapaian tujuan-tujuan spesifik)



4.   Klien menggunakan dukungan sosial
1.        Mengekspresikan perasaan tentang hubungan yang positif dengan orang terdekat
2.        Mengekspresikan percaya diri dengan hasil yang diinginkan
3.        Mengekspresikan percaya diri dengan diri dan orang lain
4.        Menetapkan tujuan-tujuan yang realistis
1.         Ajarkan klien untuk mengantisipasi pengalaman yang dia senang melakukan setiap hari(missal; berjalan, membaca buku favorit dan menulis surat)
2.         Bantu klien untuk mengenali hal-hal yang dicintai, yang ia saying dan pentingnya terhadap kehidupan orang lain disamping tentang kegagalan dalam kesehatan
3.         Beri dorongan pada klien untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai masalah dan/atau penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi tersebut dengan koping yang efektif



5.   Klien menggunakan dukungan sosial
1.        Sumber tersedia (keluarga, lingkungan, dan masyarakat)
2.        Keyakinan makin meningkat
1.         Kaji dan kerahkan sumber-sumber eksternal individu (orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung agama yang dianutnya)
2.         Kaji system pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama). Lakukan rujukan selesai indikasi (missal; konseling dan pemuka agama)


Dapatkan berbagai materi keperawatan dan intervensi keperawatan di Perawat Kita Satu
Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Intervensi Keperawatan Risiko Bunuh Diri Lengkap, semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami. Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

1 komentar: